Lakukan dan Kerjakan, Allah yang Menyempurnakan
Langkah boleh salah, tapi niat tidak boleh salah. Allah akan menunjukkan jalan buat kita,” demikian nasihat guru sang penulis, yang tak lain adalah Ustaz Yusuf Mansur, yang senantiasa memberi motivasi untuk tidak takut memulai berbuat kebaikan. “Lakukanlah dan kerjakan. Allah akan menyempurnakannya!” Ikhtiar penulis menyusun buku ini tak lepas dari kesyukuran atas “Hadiah dari Sang Guru”. Hadiah bukan dalam arti materi, tapi amanah, kepercayaan, ilmu, dan pengetahuan yang diturunkan oleh sang guru.
Karena itu, buku ini diberi judul Hadiah dari Sang Guru. Ukurannya praktis (tidak besar) dan nyaman dibaca pula (di mana saja). Buku ini adalah buku kedua karya Tarmizi Ashidiq yang bertutur dari kisah-kisah ringan dan apa adanya. Sebagai Direktur Eksekutif Yayasan Daarul Qur’an, Tarmizi adalah mesin yang membuat Program Pembibitan Penghafal Al-Qur’an (PPPA) Daarul Qur’an melesat amat cepat. Kemudian menebar gerakan Rumah Tahfidz yang kini jadi gerakan penghafal Alquran terluas di Indonesia. Tiga tahun terakhir, budaya menghafal Alquran tak lagi jadi hal aneh di Indonesia. Bahkan, jutaan orang tua telah mendorong dan memilihkan jalan hidup putra-putrinya sebagai penghafal Alquran.
Isi buku ini memang cerita ringan-ringan saja, tapi jangan dulu sepelekan urusan yang ringan-ringan. Karena, seperti yang dikisahkan dalam berbagai kitab hadis, gara-gara urusan yang sepele Allah memberi ganjaran pada orang yang melakukannya dengan surga. Seperti, sebuah hadis yang mengisahkan seorang pelacur yang diberi ganjaran surga karena telah menimba air dengan sepatunya untuk memberi minum seekor anjing yang kehausan di padang pasir.
Begitu juga sebaliknya, kita juga tidak boleh menyepelekan soal-soal yang ringan. Karena, “Dosa Besar,” kata Sayyidina Ali ra, “adalah dosa kecil yang disepelekan.” Seperti, kisah perempuan masuk neraka lantaran mengurung seekor kucing hingga mati kelaparan atau bagaimana orang masuk neraka gara-gara membunuh lalat atas nama selain Allah.
Hikmah dari kisah-kisah ringan yang disajikan Tarmizi dalam buku ini tidak lain adalah kedahsyatan sedekah. Baik kisah yang dialaminya sendiri, keluarganya, sahabatnya, maupun orang lain. Bahkan, royalti buku ini pun sepenuhnya disedekahkan sang penulis untuk mendukung Program Dakwah Pedalaman Nusantara, sebagaimana yang pernah disarankan kepadanya untuk mengikuti jejak sang guru.
Banyak sudah buku inspiratif yang sebagian kisahnya realita dibumbui cerita agak dramatis. Namun jika pembaca terinspirasi setelah membaca buku ini, tak lain karena penulis bertutur apa adanya. Jadi, ayo mulailah berbuat sedekah (kebaikan) sekarang juga. “Lakukanlah dan kerjakan. Hakulyakin Allah akan menyempurnakannya!”
Judul : HADIAH DARI SANG GURU: Mengeja Hikmah dari Berkah Hidup Bersama Guru
ISBN : 978-979-055-386-6
Penulis : Tarmizi Ashidiq
Editor : Rina Rianasari
Penerbit : Syaamil Book
Cetakan : Januari 2013
Tebal : 140 halaman
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi : 15 x 15 cm
Kategori : Hikmah/Inspiratif
Bandung, 14 Juni 2013
Suro Prapanca
Dimuat juga pada harian INILAHKORAN, Minggu 16 Juni 2013
Minggu, 23 Juni 2013
Resensi Buku - NALAR AYAT-AYAT SEMESTA
Ayat-Ayat Semesta Menjadi Kebangkitan Sains Islam
Bila mendengar kata ‘sains’ dan ‘agama’ (dalam hal ini Islam), mungkin sampai sekarang banyak orang yang menggambarkan betapa serunya sejarah hubungan di antara keduanya. Dalam catatan sejarah, perjumpaan agama dengan sains tidak hanya berupa pertentangan belaka, tetapi juga banyak cerita bagaimana orang berusaha mencari hubungan antara keduanya. Yaitu hubungan pada posisi, sains tidak mengarahkan agama pada jalan yang dikehendakinya dan agama juga tidak memaksakan sains untuk tunduk pada kehendaknya.
Di sini, dalam buku Nalar Ayat-Ayat Semesta terlebih dahulu sang penulis menguraikan tentang tiga pola interaksi antara sains dan Islam, yaitu Islamisasi Sains, Saintifikasi Islam, dan Sains Islam: pengertian, perbedaan, dan persamaannya. Menurut penulis, Islamisasi Sains telah banyak dilakukan, baik oleh perorangan maupun lembaga. Seperti yang dilakukan Fakultas Sains dan Teknologi semua Universitas Islam Negeri (UIN) di seluruh Indonesia, mereka melakukan upaya Islamisasi Sains dalam mengintegrasi sains dan Islam.
Bagaimana dengan Sains Islam? Sejauh ini wacana yang mendominasi Sains Islam berada di ranah ilmu sosial, seperti ekonomi, psikologi, maupun politik. Di sinilah, Agus Purwanto, sang penulis Nalar Ayat-Ayat Semesta, memberikan argumentasi bahwa Sains Islam juga berlaku bagi ilmu alam. Dia menyampaikan secara mendetail dalam buku yang kedua ini (buku pertamanya berjudul: Ayat-Ayat Semesta, Mei 2008) khususnya dengan mempertimbangkan 800 ayat dalam Al-Quran yang secara deskriptif menerangkan tentang fenomena alam atau disebut dengan ayat-ayat kauniyah.
Dalam Al-Quran, jumlah ayat-ayat kauniyah sangatlah banyak, tetapi sering kali terabaikan dari perhatian umat Muslim. Padahal ayat-ayat kauniyah itu perlu, untuk menggugah kesadaran mengenai pentingnya penguasaan ilmu dan teknologi bagi kesejahteraan manusia di muka bumi, selain untuk merenungkan penciptaan Tuhan.
Melanjutkan buku pertamanya itulah, sang penulis –yang juga seorang doktor fisika teoretis dan pengkaji serius Al-Quran— mengajak umat Muslim untuk senantiasa merenungkan ayat-ayat kauniyah yang terdapat di dalam Al-Quran demi tumbuhnya kecintaan pada sains sekaligus pada bahasa Arab dan Al-Quran, serta sebaliknya cinta pada Al-Quran sekaligus sains.
Pada akhirnya, ajakan sang penulis yang dituangkan dalam buku ini menjadi harapan besar. Harapan untuk membangun Sains Islam, karena umat Islam telah sekian lama mengabaikan dan tidak mempunyai tradisi mengembangkan ilmu alam atau membangun sains secara umum, tidak hanya wacana Sains Islam di ranah ilmu sosial.
Nalar Ayat-Ayat Semesta (AAS), penyebutan ini diharapkan memberi efek psikologis bahwa Al-Quran merupakan basis epistemologi dalam konstruksi Sains Islam. Dalam artian, wahyu menjadi bagian dari dasar-dasar pengetahuan, baik yang berhubungan dengan hakikat hidup (ontologi) maupun kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia (aksiologi). Jadi, Al-Quran tidak lagi dipahami sekadar katalog atau daftar fasilitas hidup setelah mati maupun setelah Hari Kebangkitan di Padang Mahsyar, melainkan dipahami secara lebih lengkap dan terpadu. Semoga!
Judul : NALAR AYAT-AYAT SEMESTA
Menjadikan Al-Quran sebagai Basis Konstruksi Ilmu Pengetahuan
ISBN : 978-979-433-730-1
Karya : Agus Purwanto, D.Sc.
Diterbitkan : Penerbit Mizan, PT Mizan Pustaka
Cetakan I : Agustus 2012
Tebal : 480 halaman
Jenis Cover : Hard Cover
Dimensi : 19 x 24,5 cm
Kategori : Al-Quran/Sains
Bandung, 7 Juni 2013
Suro Prapanca
Dimuat juga pada harian INILAHKORAN, Minggu 9 Juni 2013
Bila mendengar kata ‘sains’ dan ‘agama’ (dalam hal ini Islam), mungkin sampai sekarang banyak orang yang menggambarkan betapa serunya sejarah hubungan di antara keduanya. Dalam catatan sejarah, perjumpaan agama dengan sains tidak hanya berupa pertentangan belaka, tetapi juga banyak cerita bagaimana orang berusaha mencari hubungan antara keduanya. Yaitu hubungan pada posisi, sains tidak mengarahkan agama pada jalan yang dikehendakinya dan agama juga tidak memaksakan sains untuk tunduk pada kehendaknya.
Di sini, dalam buku Nalar Ayat-Ayat Semesta terlebih dahulu sang penulis menguraikan tentang tiga pola interaksi antara sains dan Islam, yaitu Islamisasi Sains, Saintifikasi Islam, dan Sains Islam: pengertian, perbedaan, dan persamaannya. Menurut penulis, Islamisasi Sains telah banyak dilakukan, baik oleh perorangan maupun lembaga. Seperti yang dilakukan Fakultas Sains dan Teknologi semua Universitas Islam Negeri (UIN) di seluruh Indonesia, mereka melakukan upaya Islamisasi Sains dalam mengintegrasi sains dan Islam.
Bagaimana dengan Sains Islam? Sejauh ini wacana yang mendominasi Sains Islam berada di ranah ilmu sosial, seperti ekonomi, psikologi, maupun politik. Di sinilah, Agus Purwanto, sang penulis Nalar Ayat-Ayat Semesta, memberikan argumentasi bahwa Sains Islam juga berlaku bagi ilmu alam. Dia menyampaikan secara mendetail dalam buku yang kedua ini (buku pertamanya berjudul: Ayat-Ayat Semesta, Mei 2008) khususnya dengan mempertimbangkan 800 ayat dalam Al-Quran yang secara deskriptif menerangkan tentang fenomena alam atau disebut dengan ayat-ayat kauniyah.
Dalam Al-Quran, jumlah ayat-ayat kauniyah sangatlah banyak, tetapi sering kali terabaikan dari perhatian umat Muslim. Padahal ayat-ayat kauniyah itu perlu, untuk menggugah kesadaran mengenai pentingnya penguasaan ilmu dan teknologi bagi kesejahteraan manusia di muka bumi, selain untuk merenungkan penciptaan Tuhan.
Melanjutkan buku pertamanya itulah, sang penulis –yang juga seorang doktor fisika teoretis dan pengkaji serius Al-Quran— mengajak umat Muslim untuk senantiasa merenungkan ayat-ayat kauniyah yang terdapat di dalam Al-Quran demi tumbuhnya kecintaan pada sains sekaligus pada bahasa Arab dan Al-Quran, serta sebaliknya cinta pada Al-Quran sekaligus sains.
Pada akhirnya, ajakan sang penulis yang dituangkan dalam buku ini menjadi harapan besar. Harapan untuk membangun Sains Islam, karena umat Islam telah sekian lama mengabaikan dan tidak mempunyai tradisi mengembangkan ilmu alam atau membangun sains secara umum, tidak hanya wacana Sains Islam di ranah ilmu sosial.
Nalar Ayat-Ayat Semesta (AAS), penyebutan ini diharapkan memberi efek psikologis bahwa Al-Quran merupakan basis epistemologi dalam konstruksi Sains Islam. Dalam artian, wahyu menjadi bagian dari dasar-dasar pengetahuan, baik yang berhubungan dengan hakikat hidup (ontologi) maupun kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia (aksiologi). Jadi, Al-Quran tidak lagi dipahami sekadar katalog atau daftar fasilitas hidup setelah mati maupun setelah Hari Kebangkitan di Padang Mahsyar, melainkan dipahami secara lebih lengkap dan terpadu. Semoga!
Judul : NALAR AYAT-AYAT SEMESTA
Menjadikan Al-Quran sebagai Basis Konstruksi Ilmu Pengetahuan
ISBN : 978-979-433-730-1
Karya : Agus Purwanto, D.Sc.
Diterbitkan : Penerbit Mizan, PT Mizan Pustaka
Cetakan I : Agustus 2012
Tebal : 480 halaman
Jenis Cover : Hard Cover
Dimensi : 19 x 24,5 cm
Kategori : Al-Quran/Sains
Bandung, 7 Juni 2013
Suro Prapanca
Dimuat juga pada harian INILAHKORAN, Minggu 9 Juni 2013
Resensi Buku - THE GREAT HUNT: SANG PENIUP SANGKAKALA
The Great Hunt, Kisah Fantasi yang Disangka Nyata
The Great Hunt, novel karya penulis Amerika Robert Jordan, ini merupakan sambungan/sequel dari novel sebelumnya, Eye of the World, yang merupakan kesatuan dari cerita fantasi Wheel of Time. Dalam penerbitannya, The Great Hunt dibagi menjadi dua buku, yaitu The Hunt Begins (diterbitkan dalam versi bahasa Indonesia berjudul Perburuan Sangkakala) dan buku kedua dengan judul Threads in the Pattern (Sang Peniup Sangkakala). Dalam penuturannya, Jordan menceritakan The Great Hunt dalam sebuah prolog dan 50 chapters.
Awal cerita fantasi The Great Hunt sendiri adalah perjalanan pemuda bernama Rand al’Thor, Mat Cauthon, dan Perrin Aybara yang bergabung dalam prajurit Shienaran, salah satu negara Tanah Perbatasan, yang harus mendapatkan kembali Sangkakala Valere. Di saat yang sama, Egwene al’Vere, Nynaeve al’Meare, dan Elayne Trakand harus ke Menara Putih, Istana Takhta Amyrlin, di Tar Valon untuk mempelajari jalan menjadi Aes Sedai.
Pada buku ketiga dari Wheel of Time, berjudul The Great Hunt: Sang Peniup Sangkakala, ini Penerbit Mizan mencetaknya dengan ketebalan 416 halaman, diceritakan bahwa menghilangnya Sangkakala Valere dari Benteng Fal Dara menyadarkan semua orang betapa Kegelapan menyusupkan mata-matanya hingga jauh ke kalangan mereka. Bahkan, ada kemungkinan Tar Valon pun disusupi Kawan Kegelapan.
Kejadian ini membuat Takhta Amyrlin dan Moraine memutuskan untuk meluncurkan Perburuan Sangkakala. Sangkakala Valere harus mereka dapatkan apa pun risikonya, karena takdir sang Naga terkait erat dengan seruan Sangkakala tersebut.
Moraine, Rand, Perrin, dan Mat memburu Padan Fain yang melarikan Sangkakala, ditemani oleh sepasukan prajurit Shienaran. Tetapi di tengah jalan, Rand terpisah dari mereka. Tanpa sadar kekuatan Saidar membawanya ke sebuh dunia lain, dimensi lain tempat salah seorang dari Kaum Terbuang menunggunya.
Sementara itu, Egwene dan Nynaeve dijebak oleh Ajah Hitam Kawan Kegelapan untuk menjadi bukan kaum Seanchan. Kaum dari sisi samudra yang memperbudak perempuan yang menggunakan Daya Tunggal.
Akankah pintalan Roda Takdir menyelamatkan mereka dari sang Kegelapan yang terus menebarkan jaringnya? Rand dihadapkan dalam pilihan yang sulit, menyelamatkan Egwene atau memburu Sangkakala Valere, sementara pintalan Takdir kian menyeretnya dalam pusaran pertempuran antara Kegelapan dan Cahaya.
Anda --pembaca yang beruntung bisa mendapatkan novel versi bahasa Indonesia ini-- tidak usah khawatir. Untuk memahami istilah-istilah dan tempat-tempat yang terdengar asing di telinga, akan sangat terbantu dalam menikmati cerita ini dengan adanya peta dan glosarium dalam dunia fantasi novel ini.
Judul : THE GREAT HUNT: SANG PENIUP SANGKAKALA
Diterjemahkan dari : The Great Hunt
ISBN : 978-979-433-759-2
Karya : Robert Jordan
Penerjemah : Femmy Syahrani dan Dina Begum
Diterbitkan : Penerbit Mizan, PT Mizan Pustaka
Cetakan I : Februari 2013
Tebal : 416 halaman
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi : 15,5 x 23,5 cm
Kategori : Novel
Bandung, 30 Mei 2013
Suro Prapanca
Dimuat juga pada INILAHKORAN, Minggu 2 Juni 2013
The Great Hunt, novel karya penulis Amerika Robert Jordan, ini merupakan sambungan/sequel dari novel sebelumnya, Eye of the World, yang merupakan kesatuan dari cerita fantasi Wheel of Time. Dalam penerbitannya, The Great Hunt dibagi menjadi dua buku, yaitu The Hunt Begins (diterbitkan dalam versi bahasa Indonesia berjudul Perburuan Sangkakala) dan buku kedua dengan judul Threads in the Pattern (Sang Peniup Sangkakala). Dalam penuturannya, Jordan menceritakan The Great Hunt dalam sebuah prolog dan 50 chapters.
Awal cerita fantasi The Great Hunt sendiri adalah perjalanan pemuda bernama Rand al’Thor, Mat Cauthon, dan Perrin Aybara yang bergabung dalam prajurit Shienaran, salah satu negara Tanah Perbatasan, yang harus mendapatkan kembali Sangkakala Valere. Di saat yang sama, Egwene al’Vere, Nynaeve al’Meare, dan Elayne Trakand harus ke Menara Putih, Istana Takhta Amyrlin, di Tar Valon untuk mempelajari jalan menjadi Aes Sedai.
Pada buku ketiga dari Wheel of Time, berjudul The Great Hunt: Sang Peniup Sangkakala, ini Penerbit Mizan mencetaknya dengan ketebalan 416 halaman, diceritakan bahwa menghilangnya Sangkakala Valere dari Benteng Fal Dara menyadarkan semua orang betapa Kegelapan menyusupkan mata-matanya hingga jauh ke kalangan mereka. Bahkan, ada kemungkinan Tar Valon pun disusupi Kawan Kegelapan.
Kejadian ini membuat Takhta Amyrlin dan Moraine memutuskan untuk meluncurkan Perburuan Sangkakala. Sangkakala Valere harus mereka dapatkan apa pun risikonya, karena takdir sang Naga terkait erat dengan seruan Sangkakala tersebut.
Moraine, Rand, Perrin, dan Mat memburu Padan Fain yang melarikan Sangkakala, ditemani oleh sepasukan prajurit Shienaran. Tetapi di tengah jalan, Rand terpisah dari mereka. Tanpa sadar kekuatan Saidar membawanya ke sebuh dunia lain, dimensi lain tempat salah seorang dari Kaum Terbuang menunggunya.
Sementara itu, Egwene dan Nynaeve dijebak oleh Ajah Hitam Kawan Kegelapan untuk menjadi bukan kaum Seanchan. Kaum dari sisi samudra yang memperbudak perempuan yang menggunakan Daya Tunggal.
Akankah pintalan Roda Takdir menyelamatkan mereka dari sang Kegelapan yang terus menebarkan jaringnya? Rand dihadapkan dalam pilihan yang sulit, menyelamatkan Egwene atau memburu Sangkakala Valere, sementara pintalan Takdir kian menyeretnya dalam pusaran pertempuran antara Kegelapan dan Cahaya.
Anda --pembaca yang beruntung bisa mendapatkan novel versi bahasa Indonesia ini-- tidak usah khawatir. Untuk memahami istilah-istilah dan tempat-tempat yang terdengar asing di telinga, akan sangat terbantu dalam menikmati cerita ini dengan adanya peta dan glosarium dalam dunia fantasi novel ini.
Judul : THE GREAT HUNT: SANG PENIUP SANGKAKALA
Diterjemahkan dari : The Great Hunt
ISBN : 978-979-433-759-2
Karya : Robert Jordan
Penerjemah : Femmy Syahrani dan Dina Begum
Diterbitkan : Penerbit Mizan, PT Mizan Pustaka
Cetakan I : Februari 2013
Tebal : 416 halaman
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi : 15,5 x 23,5 cm
Kategori : Novel
Bandung, 30 Mei 2013
Suro Prapanca
Dimuat juga pada INILAHKORAN, Minggu 2 Juni 2013
Minggu, 26 Mei 2013
Resensi Buku - Pesona Penyingkap Makna
BAHTERA: Bahasa dan Terjemahan Indonesia
Profesi penerjemah merupakan profesi yang telah turut mewarnai kehidupan di Indonesia. Ada begitu banyak informasi yang dapat diserap, dimanfaatkan, dan dikembangkan lebih lanjut hanya setelah diolah oleh para penerjemah. Sekadar contoh, Harry Potter seri tujuh novel fantasi yang dikarang oleh penulis Inggris JK Rowling (juga dijadikan film yang ternyata menjadi film paling sukses sepanjang masa). Tentu kisah mendunia itu tidak bakal sampai ke pembaca dan pemirsa di Indonesia, tanpa personel yang terampil dari seorang penerjemah.
Hasil karya penerjemah tersebut bisa Anda ditemui di semua bidang kehidupan, akan tetapi harus diakui bahwa profesi tersebut belumlah sepopuler profesi lain, seperti dokter, pengacara, atau pengarang misalnya. Inilah barangkali prakarsa milis para penerjemah di Indonesia, Bahtera (Bahasa dan Terjemahan Indonesia), sebagai upaya untuk lebih mendekatkan profesi ini kepada masyarakat di Indonesia.
Apa yang membuat penerjemah berkembang maju? Bakat saja ternyata tidak cukup karena meskipun proses penerjemahan adalah kombinasi antara bakat, motivasi, dan teknik, kedua faktor terakhirlah yang utama. Untuk itu, ada dua hal penting yang perlu dilakukan. Pertama, memperhatikan berbagai peristiwa kebahasaan dan kebudayaan, termasuk teknologi dan ekonomi, untuk meningkatkan kualitas terjemahan. Kedua, berusaha meningkatkan jam terbang dan menggali informasi tentang teknik penanggulangan masalah penerjemahan.
Mengawali tahun 2013, milis penerjemah Bahtera kembali meluncurkan buku kumpulan tulisan para anggotanya. Buku pertama, Tersesat Membawa Nikmat (2009) didominasi oleh penuturan para penerjemah tentang perjalanan karier mereka yang seolah diawali secara tidak sengaja. Buku kedua, Menatah Makna (2011) menekankan unsur keterampilan dan kerja keras serta ‘jam terbang’ yang dijalani pelaku profesi ini (penerjemah) dalam kegiatan usaha mereka sebagai penyampai makna.
Buku ketiga, Pesona Penyingkap Makna (2013) ingin lebih menekankan sisi daya tarik profesi ini yang menyebabkan beberapa penulis dengan yakin dan percaya diri beralih profesi. Dalam buku ini dihadirkan pula banyak informasi penting yang membantu memberdayakan penerjemah, terutama dalam tulisan berjudul ‘Semakin Bernas Semakin Berdaya’. Petunjuk praktis yang sangat bermanfaat diagihkan pula dalam ‘Kiat dan Siasat’ yang mudah-mudahan semakin mempertebal bekal para penerjemah dalam meniti karier mereka.
Di masa kini, untuk diakui sebagai penerjemah yang andal ternyata tidak hanya cukup mengantungi ijazah perguruan tinggi saja. Pengalaman dan pelatihan selanjutnya merupakan faktor penting dalam membentuk sosok penerjemah dan juru bahasa. Dalam hal ini ada milis Bahtera dan HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia) bergandengan tangan menyediakan beragam pelatihan, seminar, dan lokakarya di berbagai provinsi di Indonesia untuk membantu mereka yang berminat terjun ke profesi ini. Dan buku ini mengisahkan pengalaman mereka dalam perjalanan hidup sebagai penerjemah. Dari semua materi yang terlihat serius ini ternyata bidang penerjemahan merupakan salah satu lahan subur untuk mendulang penghasilan yang berlipat-lipat. Caranya? Silakan Anda baca dahulu seluk-beluk dunia penerjemahan dan kiat-kiat rahasia di balik kesuksesan itu melalui seri buku penerjemahan dari milis Bahtera ini.
Judul : Pesona Penyingkap Makna
ISBN : 978-602-9056-47-1
Penulis : Anggota Milis Bahtera
Penyunting : Sofia F Mansoor dan Maria E Sundah
Penerbit : Penerbit ITB
Cetakan : April 2013
Tebal : 216 halaman
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi : 14,5 x 21 cm
Kategori : Bahasa dan Terjemahan
Bandung, 17 Mei 2013
Suro Prapanca
Dimuat juga di INILAHKORAN, Minggu 26 Mei 2013
Profesi penerjemah merupakan profesi yang telah turut mewarnai kehidupan di Indonesia. Ada begitu banyak informasi yang dapat diserap, dimanfaatkan, dan dikembangkan lebih lanjut hanya setelah diolah oleh para penerjemah. Sekadar contoh, Harry Potter seri tujuh novel fantasi yang dikarang oleh penulis Inggris JK Rowling (juga dijadikan film yang ternyata menjadi film paling sukses sepanjang masa). Tentu kisah mendunia itu tidak bakal sampai ke pembaca dan pemirsa di Indonesia, tanpa personel yang terampil dari seorang penerjemah.
Hasil karya penerjemah tersebut bisa Anda ditemui di semua bidang kehidupan, akan tetapi harus diakui bahwa profesi tersebut belumlah sepopuler profesi lain, seperti dokter, pengacara, atau pengarang misalnya. Inilah barangkali prakarsa milis para penerjemah di Indonesia, Bahtera (Bahasa dan Terjemahan Indonesia), sebagai upaya untuk lebih mendekatkan profesi ini kepada masyarakat di Indonesia.
Apa yang membuat penerjemah berkembang maju? Bakat saja ternyata tidak cukup karena meskipun proses penerjemahan adalah kombinasi antara bakat, motivasi, dan teknik, kedua faktor terakhirlah yang utama. Untuk itu, ada dua hal penting yang perlu dilakukan. Pertama, memperhatikan berbagai peristiwa kebahasaan dan kebudayaan, termasuk teknologi dan ekonomi, untuk meningkatkan kualitas terjemahan. Kedua, berusaha meningkatkan jam terbang dan menggali informasi tentang teknik penanggulangan masalah penerjemahan.
Mengawali tahun 2013, milis penerjemah Bahtera kembali meluncurkan buku kumpulan tulisan para anggotanya. Buku pertama, Tersesat Membawa Nikmat (2009) didominasi oleh penuturan para penerjemah tentang perjalanan karier mereka yang seolah diawali secara tidak sengaja. Buku kedua, Menatah Makna (2011) menekankan unsur keterampilan dan kerja keras serta ‘jam terbang’ yang dijalani pelaku profesi ini (penerjemah) dalam kegiatan usaha mereka sebagai penyampai makna.
Buku ketiga, Pesona Penyingkap Makna (2013) ingin lebih menekankan sisi daya tarik profesi ini yang menyebabkan beberapa penulis dengan yakin dan percaya diri beralih profesi. Dalam buku ini dihadirkan pula banyak informasi penting yang membantu memberdayakan penerjemah, terutama dalam tulisan berjudul ‘Semakin Bernas Semakin Berdaya’. Petunjuk praktis yang sangat bermanfaat diagihkan pula dalam ‘Kiat dan Siasat’ yang mudah-mudahan semakin mempertebal bekal para penerjemah dalam meniti karier mereka.
Di masa kini, untuk diakui sebagai penerjemah yang andal ternyata tidak hanya cukup mengantungi ijazah perguruan tinggi saja. Pengalaman dan pelatihan selanjutnya merupakan faktor penting dalam membentuk sosok penerjemah dan juru bahasa. Dalam hal ini ada milis Bahtera dan HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia) bergandengan tangan menyediakan beragam pelatihan, seminar, dan lokakarya di berbagai provinsi di Indonesia untuk membantu mereka yang berminat terjun ke profesi ini. Dan buku ini mengisahkan pengalaman mereka dalam perjalanan hidup sebagai penerjemah. Dari semua materi yang terlihat serius ini ternyata bidang penerjemahan merupakan salah satu lahan subur untuk mendulang penghasilan yang berlipat-lipat. Caranya? Silakan Anda baca dahulu seluk-beluk dunia penerjemahan dan kiat-kiat rahasia di balik kesuksesan itu melalui seri buku penerjemahan dari milis Bahtera ini.
Judul : Pesona Penyingkap Makna
ISBN : 978-602-9056-47-1
Penulis : Anggota Milis Bahtera
Penyunting : Sofia F Mansoor dan Maria E Sundah
Penerbit : Penerbit ITB
Cetakan : April 2013
Tebal : 216 halaman
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi : 14,5 x 21 cm
Kategori : Bahasa dan Terjemahan
Bandung, 17 Mei 2013
Suro Prapanca
Dimuat juga di INILAHKORAN, Minggu 26 Mei 2013
Rabu, 22 Mei 2013
Resensi Buku - CERITA AZRA
Azyumardi Azra Sang Intelektual Organik
Azyumardi Azra adalah seorang pakar sejarah dan peradaban Islam yang diakui dunia internasional. Azra —biasa dia dipanggil— seorang cendekiawan Muslim “pendobrak”. Kiprahnya di dunia pendidikan menghasilkan inovasi-inovasi yang tidak pernah terpikirkan oleh orang lain. Salah satu hasilnya adalah bertransformasinya IAIN Syarif Hidayatullah menjadi UIN Syarif Hidayatullah, yang menjadikan institusi pendidikan Islam bisa masuk ke dalam arus utama, menjadi lebih open-minded, berkualitas, dan bermartabat di mata masyarakat.
Direktur Program Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah ini juga orang Indonesia pertama yang meraih gelar Commander of the British Empire (CBE) dari Ratu Inggris. Dia berhak dipanggil “Sir” dan memiliki hak-hak yang juga istimewa, seperti bebas keluar-masuk Inggris tanpa visa dan bisa juga minta (jika beliau mau) dimakamkan di Inggris Raya. Gelar ini pun lebih tinggi daripada pesepak bola terkenal, David Beckham, yang ‘hanya’ bergelar Officer of the Order of British Empire (OBE) dan beberapa orang populer lainnya di Inggris.
Membaca buku berjudul CERITA AZRA: Biografi Cendekiawan Muslim Azyumardi Azra seperti sebuah cerminan tentang apa yang mungkin pembaca dapatkan dalam hidup, selama mau berusaha cukup keras. Apa pun bisa dicapai jika kita berupaya; seperti ungkapan populer dalam bahasa Inggris, the sky’s the limit. Pemikiran Azyumardi yang moderat juga sangat berguna untuk diambil sebagai pelajaran. Dia termasuk salah satu dari sedikit pemikir Islam yang bisa mengakomodasi kepentingan pihak-pihak yang bertentangan. Pikirannya cukup terbuka dan hatinya cukup lembut untuk dapat melihat suatu permasalahan dari berbagai sudut, kecenderungan yang tidak dimiliki semua orang.
Buku biografi yang ditulis seorang Editor, Andina Dwifatma, ini juga mengupas intisari pemikiran Azyumardi yang menyepakati pendapat bahwa cendekiawan semestinya dapat merekontekstualisasi berbagai gagasan yang bertebaran di dunia pemikiran dengan situasi negara, sehingga menjadi bermanfaat untuk banyak pihak. Di samping itu, dia juga seorang aktivis. Di kisahkan bagaimana dia aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sebagai Presidium Pimpinan Pusat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), juga pernah menjabat Rektor UIN Jakarta, yang tentu saja untuk menangani semua itu tidak hanya cukup dengan konsep dan wacana serta teoritis. Sehingga, dia lebih pas dipandang sebagai ‘intelektual organik’.
Di antara berbagai hal yang biasanya beliau periksa dengan saksama, berkomentar dengan referensi yang kuat, dan analisis tajam mengenai dunia Islam, pendidikan, politik, dan sejarah --dalam biografi ini ada rangkuman empat pokok bahasan yang mendapat perhatian utama. Apa saja itu, tentu butuh berlembar-lembar untuk menyampaikannya dalam resensi ini. Bila CERITA AZRA ini ada di hadapan pembaca, sepertinya ini bisa diposisikan sebagai sebuah pengantar bagi pembaca yang ingin lebih jauh menyelami pemikiran sang intelektual organik ini.
Kombinasi pencapaian dan karakter Azyumardi menghasilkan sebuah cerita panjang yang darinya dapat disarikan suatu pelajaran. Dengan demikian, rasanya tidak terlalu salah jika penulis berharap biografi singkat —yang lebih tepat disebut kumpulan features—ini mengungkapkan kisah kehidupan Azyumardi Azra beserta sisi-sisi menarik kehidupannya yang jarang diketahui masyarakat. Dengan membaca buku ini, Anda akan terinspirasi oleh kisah hidupnya.
Judul : CERITA AZRA: Biografi Cendekiawan Muslim Azyumardi Azra
ISBN : 978-979-099-313-6
Penulis : Andina Dwifatma
Editor : Adhika Prasetya Kusharsanto
Penerbit : Erlangga
Cetakan : Maret 2011
Tebal : 248 halaman
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi : 14,5 x 21 cm
Kategori : Biografi
Bandung, 17 Mei 2013
Suro Prapanca
Dimuat juga di INILAHKORAN, Minggu 19 Mei 2013
Azyumardi Azra adalah seorang pakar sejarah dan peradaban Islam yang diakui dunia internasional. Azra —biasa dia dipanggil— seorang cendekiawan Muslim “pendobrak”. Kiprahnya di dunia pendidikan menghasilkan inovasi-inovasi yang tidak pernah terpikirkan oleh orang lain. Salah satu hasilnya adalah bertransformasinya IAIN Syarif Hidayatullah menjadi UIN Syarif Hidayatullah, yang menjadikan institusi pendidikan Islam bisa masuk ke dalam arus utama, menjadi lebih open-minded, berkualitas, dan bermartabat di mata masyarakat.
Direktur Program Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah ini juga orang Indonesia pertama yang meraih gelar Commander of the British Empire (CBE) dari Ratu Inggris. Dia berhak dipanggil “Sir” dan memiliki hak-hak yang juga istimewa, seperti bebas keluar-masuk Inggris tanpa visa dan bisa juga minta (jika beliau mau) dimakamkan di Inggris Raya. Gelar ini pun lebih tinggi daripada pesepak bola terkenal, David Beckham, yang ‘hanya’ bergelar Officer of the Order of British Empire (OBE) dan beberapa orang populer lainnya di Inggris.
Membaca buku berjudul CERITA AZRA: Biografi Cendekiawan Muslim Azyumardi Azra seperti sebuah cerminan tentang apa yang mungkin pembaca dapatkan dalam hidup, selama mau berusaha cukup keras. Apa pun bisa dicapai jika kita berupaya; seperti ungkapan populer dalam bahasa Inggris, the sky’s the limit. Pemikiran Azyumardi yang moderat juga sangat berguna untuk diambil sebagai pelajaran. Dia termasuk salah satu dari sedikit pemikir Islam yang bisa mengakomodasi kepentingan pihak-pihak yang bertentangan. Pikirannya cukup terbuka dan hatinya cukup lembut untuk dapat melihat suatu permasalahan dari berbagai sudut, kecenderungan yang tidak dimiliki semua orang.
Buku biografi yang ditulis seorang Editor, Andina Dwifatma, ini juga mengupas intisari pemikiran Azyumardi yang menyepakati pendapat bahwa cendekiawan semestinya dapat merekontekstualisasi berbagai gagasan yang bertebaran di dunia pemikiran dengan situasi negara, sehingga menjadi bermanfaat untuk banyak pihak. Di samping itu, dia juga seorang aktivis. Di kisahkan bagaimana dia aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sebagai Presidium Pimpinan Pusat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), juga pernah menjabat Rektor UIN Jakarta, yang tentu saja untuk menangani semua itu tidak hanya cukup dengan konsep dan wacana serta teoritis. Sehingga, dia lebih pas dipandang sebagai ‘intelektual organik’.
Di antara berbagai hal yang biasanya beliau periksa dengan saksama, berkomentar dengan referensi yang kuat, dan analisis tajam mengenai dunia Islam, pendidikan, politik, dan sejarah --dalam biografi ini ada rangkuman empat pokok bahasan yang mendapat perhatian utama. Apa saja itu, tentu butuh berlembar-lembar untuk menyampaikannya dalam resensi ini. Bila CERITA AZRA ini ada di hadapan pembaca, sepertinya ini bisa diposisikan sebagai sebuah pengantar bagi pembaca yang ingin lebih jauh menyelami pemikiran sang intelektual organik ini.
Kombinasi pencapaian dan karakter Azyumardi menghasilkan sebuah cerita panjang yang darinya dapat disarikan suatu pelajaran. Dengan demikian, rasanya tidak terlalu salah jika penulis berharap biografi singkat —yang lebih tepat disebut kumpulan features—ini mengungkapkan kisah kehidupan Azyumardi Azra beserta sisi-sisi menarik kehidupannya yang jarang diketahui masyarakat. Dengan membaca buku ini, Anda akan terinspirasi oleh kisah hidupnya.
Judul : CERITA AZRA: Biografi Cendekiawan Muslim Azyumardi Azra
ISBN : 978-979-099-313-6
Penulis : Andina Dwifatma
Editor : Adhika Prasetya Kusharsanto
Penerbit : Erlangga
Cetakan : Maret 2011
Tebal : 248 halaman
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi : 14,5 x 21 cm
Kategori : Biografi
Bandung, 17 Mei 2013
Suro Prapanca
Dimuat juga di INILAHKORAN, Minggu 19 Mei 2013
Kamis, 16 Mei 2013
Resensi Buku - DREAM
Mimpi Ustaz Yusuf Mansur
Ustaz Yusuf Mansur dikenal sebagai Pemimpin Pondok Pesantren Daarul Qur’an, Bulak Santri, Cipondoh, Tangerang, dan pemimpin pengajian Wisata Hati. Ustaz yang lahir di Jakarta, 19 Desember 1976 ini telah melalui perjalanan berliku sampai menjadi seorang ustaz terkenal, seperti sekarang.
Buku dengan judul Dream ini adalah buku ke sekian karya sang ustaz yang juga telah menulis buku-buku yang ternyata mendapat sambutan luar biasa dari pembacanya, seperti Wisata Hati Mencari Tuhan yang Hilang, Kuliah Tauhid, Boleh Gak Sih, dan Sedekah Ngarep. Dream ini bukanlah mimpi mengenai harta, jabatan, atau mimpi-mimpi keduniaan lainnya yang bersifat fana. Dream adalah mimpi mengenai bagaimana Alquran begitu mudah dan indah dibumikan dalam beragam bentuk.
Tidak semua orang mempunyai keinginan. Tidak semua orang mempunyai impian. Tidak sedikit juga yang hidupnya datar, kosong, sepi dari keinginan dan impian. Hidup orang yang tidak mempunyai keinginan bukan berarti baik. Dia tidak akan mempunyai motivasi dan semangat dalam hidup. Bahkan, hal itu berpotensi menimbulkan kejenuhan.
Contohnya, ada seorang pekerja. Sebutlah dia sebagai pesuruh. Coba tanya, apakah mereka mempunyai impian. Tidak semua pekerja itu akan mampu menjawab, “Punya!” Ada yang ingin meneruskan kuliah. Ada yang ingin menjadi staf. Ada yang ingin memiliki rumah sendiri. Ada yang ingin menikah. Ada yang ingin memberangkatkan kedua orang tuanya beribadah haji. Ada yang ingin membayar utangnya. Bisa jadi jawaban itu muncul setelah ada pemicu. Setelah ditanya, barulah mereka memikirkan langkah selanjutnya yang akan mereka tempuh.
Ustaz Yusuf Mansur memang memimpikan keindahan luar biasa untuk masa tuanya. Dia bermimpi bahwa yang menggantikannya menjadi imam adalah anak dan cucunya yang sudah hafal Alquran. Dia sedang memimpikan indahnya hidup jika setiap pemimpin daerah adalah sosok yang hafal Alquran sehingga menjadi imam, minimal imam tarawih dan qiamulail dalam safari bulan Ramadhan di setiap masjid. Alangkah indahnya jika yang menjadi imam di sebuah perusahaan adalah komisaris atau presiden direkturnya yang sudah hafal Alquran. Alangkah indahnya jika dalam berbagai bidang kehidupan terdapat syarat harus hafal Alquran.
Mimpikah? Penulis buku ini hakulyakin bahwa hal tersebut bukanlah mimpi. Dengan segala usaha yang gigih dan penuh semangat, dia merasakan satu per satu dari mimpinya itu mulai menjadi kenyataan. Apa saja mimpi yang sudah mulai menjadi kenyataan tersebut? Bagaimana usaha penulis dalam mewujudkan mimpinya tersebut? Buku dengan tebal 264 halaman yang diterbitkan Sygma Examedia Arkanleema ini dapatlah menjadi jawabannya. Silakan membaca impian-impian dalam buku ini dari lembar awal sampai lembar terakhir. Sungguh buku yang penuh inspirasi!
Jadi, jika Anda memiliki keinginan untuk berubah, bolehlah itu disebut impian. Dan, kejar harapan itu dengan tindakan nyata.
Judul : DREAM
Penulis : Ustaz Yusuf Mansur
Editor : Safitri Lusiana D., dkk.
Diterbitkan : Sygma Creative Media Corp.
PT Sygma Examedia Arkanleema
Cetakan I : Maret 2013
Tebal : xii+ 364 halaman
ISBN : 978-979-055-455-0
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi : 13,5 x 20,5 cm
Kategori : Kisah Inspiratif
Bandung, 8 Mei 2013
Suro Prapanca
Dimuat juga di INILAHKORAN, Minggu 12 Mei 2013
Ustaz Yusuf Mansur dikenal sebagai Pemimpin Pondok Pesantren Daarul Qur’an, Bulak Santri, Cipondoh, Tangerang, dan pemimpin pengajian Wisata Hati. Ustaz yang lahir di Jakarta, 19 Desember 1976 ini telah melalui perjalanan berliku sampai menjadi seorang ustaz terkenal, seperti sekarang.
Buku dengan judul Dream ini adalah buku ke sekian karya sang ustaz yang juga telah menulis buku-buku yang ternyata mendapat sambutan luar biasa dari pembacanya, seperti Wisata Hati Mencari Tuhan yang Hilang, Kuliah Tauhid, Boleh Gak Sih, dan Sedekah Ngarep. Dream ini bukanlah mimpi mengenai harta, jabatan, atau mimpi-mimpi keduniaan lainnya yang bersifat fana. Dream adalah mimpi mengenai bagaimana Alquran begitu mudah dan indah dibumikan dalam beragam bentuk.
Tidak semua orang mempunyai keinginan. Tidak semua orang mempunyai impian. Tidak sedikit juga yang hidupnya datar, kosong, sepi dari keinginan dan impian. Hidup orang yang tidak mempunyai keinginan bukan berarti baik. Dia tidak akan mempunyai motivasi dan semangat dalam hidup. Bahkan, hal itu berpotensi menimbulkan kejenuhan.
Contohnya, ada seorang pekerja. Sebutlah dia sebagai pesuruh. Coba tanya, apakah mereka mempunyai impian. Tidak semua pekerja itu akan mampu menjawab, “Punya!” Ada yang ingin meneruskan kuliah. Ada yang ingin menjadi staf. Ada yang ingin memiliki rumah sendiri. Ada yang ingin menikah. Ada yang ingin memberangkatkan kedua orang tuanya beribadah haji. Ada yang ingin membayar utangnya. Bisa jadi jawaban itu muncul setelah ada pemicu. Setelah ditanya, barulah mereka memikirkan langkah selanjutnya yang akan mereka tempuh.
Ustaz Yusuf Mansur memang memimpikan keindahan luar biasa untuk masa tuanya. Dia bermimpi bahwa yang menggantikannya menjadi imam adalah anak dan cucunya yang sudah hafal Alquran. Dia sedang memimpikan indahnya hidup jika setiap pemimpin daerah adalah sosok yang hafal Alquran sehingga menjadi imam, minimal imam tarawih dan qiamulail dalam safari bulan Ramadhan di setiap masjid. Alangkah indahnya jika yang menjadi imam di sebuah perusahaan adalah komisaris atau presiden direkturnya yang sudah hafal Alquran. Alangkah indahnya jika dalam berbagai bidang kehidupan terdapat syarat harus hafal Alquran.
Mimpikah? Penulis buku ini hakulyakin bahwa hal tersebut bukanlah mimpi. Dengan segala usaha yang gigih dan penuh semangat, dia merasakan satu per satu dari mimpinya itu mulai menjadi kenyataan. Apa saja mimpi yang sudah mulai menjadi kenyataan tersebut? Bagaimana usaha penulis dalam mewujudkan mimpinya tersebut? Buku dengan tebal 264 halaman yang diterbitkan Sygma Examedia Arkanleema ini dapatlah menjadi jawabannya. Silakan membaca impian-impian dalam buku ini dari lembar awal sampai lembar terakhir. Sungguh buku yang penuh inspirasi!
Jadi, jika Anda memiliki keinginan untuk berubah, bolehlah itu disebut impian. Dan, kejar harapan itu dengan tindakan nyata.
Judul : DREAM
Penulis : Ustaz Yusuf Mansur
Editor : Safitri Lusiana D., dkk.
Diterbitkan : Sygma Creative Media Corp.
PT Sygma Examedia Arkanleema
Cetakan I : Maret 2013
Tebal : xii+ 364 halaman
ISBN : 978-979-055-455-0
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi : 13,5 x 20,5 cm
Kategori : Kisah Inspiratif
Bandung, 8 Mei 2013
Suro Prapanca
Dimuat juga di INILAHKORAN, Minggu 12 Mei 2013
Resensi Buku - MARKESOT BERTUTUR LAGI
Markesot ‘Hanyalah’ Sebuah Cara (Tetap) Menjadi Manusia
Muhammad Ainun Nadjib atau yang biasa di kenal Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun lahir di Jombang, Jatim, 27 Mei 1953. Dia adalah seorang budayawan multitalenta: penyair, penulis esai, pegiat teater, pemusik, dan lain-lain. Sebagai seorang penulis, Cak Nun sangat produktif, telah menghasilkan puluhan buku. Di antara karya-karya emasnya yaitu Dari Pojok Sejarah (1985), Seribu Masjid Satu Jumlahnya (1990), Secangkir Kopi Jon Pakir (1992), Markesot Bertutur (1993), dan Markesot Bertutur Lagi (1994). Selain berkiprah di dunia tulis-menulis, dia juga merupakan motor penggerak di balik kelompok musik Kiai Kanjeng dan pengajian komunitas Jamaah Maiyah yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.
Nah, Anda yang beruntung memiliki/membaca Markesot Berutur Lagi ini merupakan karya Cak Nun edisi terbaru (2013) dari edisi lama yang terbit pada Agustus 1994. Dalam buku setebal 342 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit Mizan ini, Cak Nun memberikan alasan mengapa sang tokoh, Markesot, menjadi sentral dalam penggalan-penggalan cerita yang memenuhi sembilan bagian dalam buku ini. Menurutnya, Markesot memang salah seorang tokoh dalam kehidupan pribadinya. Sebab, yang kemudian mendorong Cak Nun menuliskan hal-hal yang awalnya berangkat dari ketokohan Markesot adalah filsafat dan sikap hidupnya.
Menurutnya, Markesot tipe manusia alam. Dalam hal teknik dan keahlian apa pun yang dia miliki, dia seorang “seniman”. Dia tidak punya cita-cita. Tidak punya gagasan apa pun tentang yang disebut masa depan. Tidak membayangkan apa-apa tentang perjalanan hidupnya. Tidak mencemaskan hari tuanya. Tidak memimpikan istri atau anak. Dia tidak memikirkan bagaimana warna bajunya atau potongan rambutnya –meskipun yang ini mulai berubah sesudah sang sarjana (istrinya yang sarjana sedangkan dirinya sendiri hanya tamat sekolah dasar) berhasil menaklukkan hatinya.
Cak Nun dan Markesot memang sama-sama pernah duduk di sekolah dasar, kemudian lama sekali keduanya berpisah. Awal-awal Cak Nun menulis seri Markesot, menurutnya, sekadar merekonstruksi kenangan atas teman kanak-kanaknya itu dan memodifikasikannya menjadi tokoh imajiner yang diperlukan oleh masyarakat pembaca dalam situasi sejarah seperti sekarang. Setelah lebih dari dua puluh tahun kemudian, akhirnya Cak Nun bertemu kembali dengan Markesot, ternyata kebanyakan yang dituliskan itu relatif sinkron dengan Markesot yang sesungguhnya –meskipun dalam banyak hal dan tema, tentu saja, bersifat fiksi dan idealisasi. Penulis mengakui bahwa untuk sejumlah tulisan, Markesotnya adalah penulis itu sendiri; dan pada tulisan lain, merekalah Markesot: ada semacam inter-identifikasi antara sang Markesot dan sang penulis.
Pada hakikatnya, Markesot hanyalah sebuah cara (untuk tetap) bertahan menjadi manusia. Markesot Bertutur Lagi merupakan kelanjutan petualangan sang tokoh dalam mengarungi samudra permasalahan kita. Dibandingkan dengan buku pertamanya (Markesot Bertutur), buku keduanya (Markesto Bertutur Lagi) lebih seru dan lebih mengajak kita untuk merenungi hakikat kehidupan –tanpa menghilangkan sama sekali nuansa guyonan yang memang telah menjadi ciri khasnya.
Representasi Markesot hanyalah sedikit eksperimentasi untuk memberitahukan kepada banyak orang bahwa manusia dan kemanusiaan sesungguhnya tetap bisa dipertahankan. Manusia Markesot sekadar mengupayakan agar di tengah riuh-rendah orkestra zaman yang dahsyat ini sesekali terdengar dentingan logam hati-nurani.
Judul : MARKESOT BERTUTUR LAGI
ISBN : 978-979-433-763-9
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Mizan, PT Mizan Pustaka
Cetakan : Edisi Baru, Februari 2013
Halaman : 342 halaman
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi : 14 x 20,5 cm
Kategori : Sosial Budaya
Bandung, 3 Mei 2013
Suro Prapanca
Dimuat juga di INILAHKORAN, Minggu 5 Mei 2013
Muhammad Ainun Nadjib atau yang biasa di kenal Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun lahir di Jombang, Jatim, 27 Mei 1953. Dia adalah seorang budayawan multitalenta: penyair, penulis esai, pegiat teater, pemusik, dan lain-lain. Sebagai seorang penulis, Cak Nun sangat produktif, telah menghasilkan puluhan buku. Di antara karya-karya emasnya yaitu Dari Pojok Sejarah (1985), Seribu Masjid Satu Jumlahnya (1990), Secangkir Kopi Jon Pakir (1992), Markesot Bertutur (1993), dan Markesot Bertutur Lagi (1994). Selain berkiprah di dunia tulis-menulis, dia juga merupakan motor penggerak di balik kelompok musik Kiai Kanjeng dan pengajian komunitas Jamaah Maiyah yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.
Nah, Anda yang beruntung memiliki/membaca Markesot Berutur Lagi ini merupakan karya Cak Nun edisi terbaru (2013) dari edisi lama yang terbit pada Agustus 1994. Dalam buku setebal 342 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit Mizan ini, Cak Nun memberikan alasan mengapa sang tokoh, Markesot, menjadi sentral dalam penggalan-penggalan cerita yang memenuhi sembilan bagian dalam buku ini. Menurutnya, Markesot memang salah seorang tokoh dalam kehidupan pribadinya. Sebab, yang kemudian mendorong Cak Nun menuliskan hal-hal yang awalnya berangkat dari ketokohan Markesot adalah filsafat dan sikap hidupnya.
Menurutnya, Markesot tipe manusia alam. Dalam hal teknik dan keahlian apa pun yang dia miliki, dia seorang “seniman”. Dia tidak punya cita-cita. Tidak punya gagasan apa pun tentang yang disebut masa depan. Tidak membayangkan apa-apa tentang perjalanan hidupnya. Tidak mencemaskan hari tuanya. Tidak memimpikan istri atau anak. Dia tidak memikirkan bagaimana warna bajunya atau potongan rambutnya –meskipun yang ini mulai berubah sesudah sang sarjana (istrinya yang sarjana sedangkan dirinya sendiri hanya tamat sekolah dasar) berhasil menaklukkan hatinya.
Cak Nun dan Markesot memang sama-sama pernah duduk di sekolah dasar, kemudian lama sekali keduanya berpisah. Awal-awal Cak Nun menulis seri Markesot, menurutnya, sekadar merekonstruksi kenangan atas teman kanak-kanaknya itu dan memodifikasikannya menjadi tokoh imajiner yang diperlukan oleh masyarakat pembaca dalam situasi sejarah seperti sekarang. Setelah lebih dari dua puluh tahun kemudian, akhirnya Cak Nun bertemu kembali dengan Markesot, ternyata kebanyakan yang dituliskan itu relatif sinkron dengan Markesot yang sesungguhnya –meskipun dalam banyak hal dan tema, tentu saja, bersifat fiksi dan idealisasi. Penulis mengakui bahwa untuk sejumlah tulisan, Markesotnya adalah penulis itu sendiri; dan pada tulisan lain, merekalah Markesot: ada semacam inter-identifikasi antara sang Markesot dan sang penulis.
Pada hakikatnya, Markesot hanyalah sebuah cara (untuk tetap) bertahan menjadi manusia. Markesot Bertutur Lagi merupakan kelanjutan petualangan sang tokoh dalam mengarungi samudra permasalahan kita. Dibandingkan dengan buku pertamanya (Markesot Bertutur), buku keduanya (Markesto Bertutur Lagi) lebih seru dan lebih mengajak kita untuk merenungi hakikat kehidupan –tanpa menghilangkan sama sekali nuansa guyonan yang memang telah menjadi ciri khasnya.
Representasi Markesot hanyalah sedikit eksperimentasi untuk memberitahukan kepada banyak orang bahwa manusia dan kemanusiaan sesungguhnya tetap bisa dipertahankan. Manusia Markesot sekadar mengupayakan agar di tengah riuh-rendah orkestra zaman yang dahsyat ini sesekali terdengar dentingan logam hati-nurani.
Judul : MARKESOT BERTUTUR LAGI
ISBN : 978-979-433-763-9
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Mizan, PT Mizan Pustaka
Cetakan : Edisi Baru, Februari 2013
Halaman : 342 halaman
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi : 14 x 20,5 cm
Kategori : Sosial Budaya
Bandung, 3 Mei 2013
Suro Prapanca
Dimuat juga di INILAHKORAN, Minggu 5 Mei 2013
Langganan:
Postingan (Atom)


