Minggu, 28 Juli 2013

Buku Baru - Menara Cinta

Menara Cinta, novel pertama yang dikirm oleh Penerbit Erlangga, Jakarta, yang saya terima tanggal 4 Mei 2013. Sengaja saya tayangkan di "Buku-Buku Baru", agar buku-buku yang dikirim tetap bisa dipublikasikan, sambil menunggu waktu diresensi dan ditayangkan di INILAH KORAN, agar tetap pembaca juga bisa ikut mengetahui bahwa ada buku-buku baru dari penerbit ini. Awalnya, saya tahu Penerbit Erlangga hanya menerbitkan buku-buku pelajaran, ternyata sekarang ada buku-buku yang lain, novel dan juga buku-buku umum.

Dalam istikharah cintanya (dalam novel Menara Cinta ini), manakah yang akan Zalfa pilih? Tetap mencintai Arizona atau meninggalkannya demi sang ibu? Lalu, apakah Arizona juga akan memilih tetap mencintai Zalfa dan mengorbankan istri dan anak-anaknya?

Persembahan novel karya Widuri R. Al Fath ini ... keren ....

Cetakan I: 2013; ISBN: 978-602-7596-19-1; SC 11 x 17,5 cm; 276 hal.[]

Buku Baru - 30 Hari Keliling SUMATRA

Saya terima buku ini dari Penerbit Dolphin (terima kasih sudah merespons dan langsung mengirimkan buku-bukunya). Diterima di meja redaksi tanggal 1 Juli 2013, jadi sebelum sempat saya buatkan resensinya, saya munculkan dulu dalam "Buku-Buku Batu".

Pengalaman hidup sang penulis (Ary Amhir) yang sungguh, seperti terkesima untuk mengikuti kisah-kisah menariknya selama perjalanan di Pulau Sumatra (eksotika yang dikenal dengan Swarnadwipa ini).

Inilah kisah backpacker perempuan yang mencatat petualangannya. Walaupun baru saja menanggung 61 jahitan di perut pasca-operasi kanker berkepanjangan, Ary Amhir tetap memanggul ransel menuju Sumatra. Pengembaraannya dituntun oleh masa lalu, yang menyeretnya menuju tempat-tempat tak terbayangkan sebelumnya. 


Cetakan I: 2013; ISBN: 978-979-1701-05-1; SC 12 x 21 cm; 284 hal.[]

Selasa, 09 Juli 2013

Resensi Buku - GREAT MOMENTS

Great Moment (Ramadan), Great Berkah 

Ramadan sebentar lagi, berdasarkan kalender diperkirakan awal Ramadan tanggal 10 Juli 2013 ini, kita tunggu saja penetapannya oleh Kementerian Agama RI. Sepanjang bulan ini pemeluk agama Islam melakukan serangkaian aktivitas keagamaan termasuk di dalamnya Berpuasa, Salat Tarawih, Meperingati turunnya Alquran, mencari malam Lailatul Qadar, memperbanyak membaca Alquran, dan kemudian mengakhirinya dengan membayar zakat fitrah dan rangkaian perayaan Idul Fitri.

Pada bulan tersebut, Allah melimpahkan banyak karunia kepada hamba-hamba-Nya dengan dilipatgandakan pahala dan diberi jaminan ampunan dosa bagi siapa yang bisa memanfaatkannya dengan semestinya. Seperti ditegaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh HR Bukhari dan Muslim, "Setiap amalan anak Adam akan dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan akan berlipat menjadi 10 kebaikan sampai 700 kali lipat. Allah 'Azza wa Jalla berfirman, ‘Kecuali puasa, sungguh dia bagian-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya, karena (orang yang berpuasa) dia telah meninggalkan syahwatnya dan makannya karena Aku’.”

Berkenaan dengan datangnya bulan yang istimewa tersebut, sungguh Great Moments, buku garapan Ustaz Ahmad Jameel dan Ustaz Syaiful Bahri ini bisa dijadikan panduan kajian harian, khususnya bila diamalkan di bulan yang khusus pula (Ramadan). Buku yang ada di tangan Anda ini berisikan sekumpulan ayat Alquran dan hadis pilihan yang diambil dari berbagai sumber. Yang awalnya merupakan Materi Kuliah Harian di Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an sebagai pengiring Daqu Methode yang bukan hanya dipelajari, melainkan harus jadi ‘pakaian’ para santri, asatidz, staf, karyawan, jemaah, serta siapa pun yang mencari ridha Allah.

Mudah-mudahan buku ini dapat dijadikan panduan kajian harian sehingga salat tepat waktu jadi kebiasaan yang berat kalau ditinggalkan, masjid-masjid para jemaah, qiamulail, dhuha, puasa sunah, dan sedekah jadi tradisi dan pakaian sehari-hari. Membaca Alquran menjadi ‘virus’ yang bertebaran di mana-mana, dan sunah Rasulullah Saw terus membahana di bumi Nusantara. Dengan begitu Allah menurunkan berkah dan rahmat-Nya buat Indonesia.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa ibadah mencakup tiga unsur yang saling terkait dan mesti ada secara bersamaan, yaitu unsur mahabah (cinta), raja’ (harapan), dan unsur khauf (takut). Buku ini mengajak siapa pun yang membaca agar senang beribadah karena cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, karena mengharapkan pertolongan dan ridha-Nya, karena takut akan pedihnya neraka, baik neraka dunia maupun neraka yang sesungguhnya di akhirat kelak.

Banyak ibadah yang ringan dilakukan, tetapi berefek luar biasa buat kita. Semoga kita tidak hanya mengenal ibadah-ibadah tersebut, tetapi menjadi orang yang terdepan untuk melakukannya dan menjadikannya sebagai ‘pakaian’ sehari-hari. Amin Rabbal ‘alamin. Ingatlah! Walaupun ringan, bagaimanakah bila Anda mengamalkannya dalam bulan yang lebih baik dari seribu bulan ini?

Judul : GREAT MOMENTS
ISBN : 978-979-055-455-9
Penulis : Ahmad Jameel & Syaiful Bahri
Editor : Safitri Lusiana D.
Penerbit : Syaamil Book
Cetakan : Maret 2013
Tebal : 266 halaman
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi : 15 x 15 cm
Kategori : Ayat Alquran dan Hadis Pilihan

Suro Prapanca
Dimuat juga di INILAHKORAN, Minggu 7 Juli 2013

Resensi Buku - GILA LOBANG GALI LOBANG

“Namanya Coridad Cruz Rodriguez” 

Namanya Jacques Pierre Andre Tocqueville. Disingkat JPAT. Walau namanya galau, dia adalah orang Indonesia asli, tidak campur. Nama yang mewah ini kerjanya di perusahaan Djakarta Lloyd, bukan sebagai direktur, melainkan sebagai kelasi kapal. Yang tidak bisa bahasa Prancis lantas menginggriskan Jacques menjadi Jacky. Dieja menurut aturan Soewandi menjadi Djeki.

Cerita berawal saat Djeki dan kawan-kawan kelasinya berlabuh di Manila, Filipina. Dia berjumpa Coridad, penyanyi perkulam Filipina. Mereka percaya perjumpaan kedua insan tersebut adalah kehendak Sang Takdir. Dua latar belakang ini bertemu atas nama cinta. Dan atas nama cinta pula mereka memaksa perpisahan.


Membaca cerita novel setebal 180 halaman ini sungguh mengasyikkan, dari mulai bagian Satu sampai dengan bagian akhir, Tiga Belas, mengalir seperti tidak terasa malah seperti terlalu tipis untuk ukuran sebuah novel. Novel ini mempersoalkan dusta turunan. Dusta yang selalu ada ketika manusia mulai jatuh cinta dan berbicara atas nama cinta. Banyak bertebaran kata-kata gombal, yang mungkin Anda, sidang pembaca, ingin mencoba mempraktikkannya?

Novel ini adalah salah satu novel Remy Sylado yang berceceran di beberapa majalah; dikarang tahun 1969, dan disiarkan sebagai cerita bersambung di majalah Aktuil pada tahun 1972 dengan judul Coridad Cruz, dan pada tahun 1977 diterbitkan untuk pertama kalinya sebagai buku dengan beberapa perubahan. Setelah puluhan tahun mewarnai perjalanan sejarah perbukuan Indonesia, kini naskah ini diterbitkan oleh Penerbit Nuansa Cendekia Bandung, sesuai aslinya.

Remy juga dikenal sebagai seorang Munsy, ahli bidang bahasa. Dalam karya fiksinya, sastrawan ini suka mengenalkan kata-kata Indonesia lama yang sudah jarang dipakai. Hal ini membuat karya sastranya unik dan istimewa, selain kualitas tulisannya yang tidak diragukan lagi. Penulisan novelnya didukung dengan riset yang tidak tanggung-tanggung. Seniman ini rajin ke Perpustakaan Nasional untuk membongkar arsip tua, dan menelusuri pasar buku tua.

Barangkali, peristiwa yang tertulis dalam novel karya Sang Munsy ini terjadi dalam kehidupan, sebab betapapun 1.000 kali dusta telah bermain dalam bibir, sebegitu jauh katakanlah dengan sungguh-sungguh bahwa GALI LOBANG GILA LOBANG adalah bagian kecil yang sekarang tinggal diam sebagai kenangan dalam diri seseorang yang masih hidup. Peristiwa apakah itu? Anda akan tahu bila membacanya.

Judul : GILA LOBANG GALI LOBANG
ISBN : 978-602-7768-06-2
Penulis : Remy Sylado
Penerbit : Nuansa Cendekia
Cetakan : Juni 2013
Tebal : 180 halaman
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi : 14,5 x 21 cm
Kategori : Novel

Suro Prapanca
Dimuat juga di INILAHKORAN, Minggu 30 Juni 2013

Resensi Buku - Tentang Sedih di VICTORIA PARK

Victoria Park, Menyulap Kesedihan Menjadi Harapan 

“Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain.” Itulah barangkali keprihatinan yang dilontarkan Fransisca Ria Susanti (penulis buku ini) dengan mengutip ungkapan Sang Maestro Sastra Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, dan disematkan pada bagian pertama buku yang diberi judul Tentang Sedih di Victoria Park ini.

Sudah banyak cerita tentang TKW yang bekerja di Hong Kong yang dimuat dan diberitakan oleh berbagai media. Tetapi, membaca buku dengan tebal 228 yang diterbitkan Penerbit Nuansa Cendekia ini, kita akan memperoleh gambaran, cerita, kisah yang tidak hanya lengkap, juga mendalam. Anda terasa mengenal dan memahami betul “dunia TKW” secara utuh.


Sebagai gambaran keprihatinan “Indonesia adalah negeri budak” dapat kita lihat dari catatan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) menyebut jumlah pembantu rumah tangga (PRT) Indonesia di luar negeri sampai dengan akhir 2011 sebanyak 2.601.590 yang tersebar di seluruh dunia. Adapun rinciannya yakni kawasan Timur Tengah dan Afrika sebanyak 1.422.650 orang atau 54,56%, kawasan Asia-Pasifik sebanyak 1.178.830 orang (45,31%) dan sisanya Eropa, Australia, dan Amerika sebanyak 110 orang (0,004%).

Jumlah ini dipastikan terus naik jika aturan Upah Minimum Provinsi terbaru membuat perusahaan-perusahaan tak mampu membayar pekerjanya dan memutuskan PHK. Kepala BNP2TKI Moh Jumhur Hidayat kepada wartawan awal Januari 2013 menyebut hal ini. “Jumlah tenaga kerja yang terancam PHK bisa ratusan ribu, itu dorongan yang besar untuk meningkatkan jumlah tenaga kerja yang ingin bekerja di luar negeri,” katanya.

Tampaknya, pengiriman PRT ke luar negeri belum akan berakhir dalam waktu dekat. Rencana untuk menciptakan lapangan kerja di negeri sendiri masih jauh panggang dari api. Aliran remitansi yang dikirim para buruh migran Indonesia masih menggiurkan sebagai sumber devisa negara. Juni 2012, data Bank Indonesia menyebut, jumlah remitansi buruh migran Indonesia yang dikirim dari Januari-Juni 2012 mencapai US$3,3 miliar atau sekitar Rp32,5 triliun. Ini merupakan jumlah total dari empat kawasan negara penempatan buruh migran Indonesia, yaitu Asia Pasifik, Timur Tengah, Amerika dan Afrika, serta Eropa dan Australia.

BNP2TKI memperkirakan jumlah remitansi dari sekitar enam juta buruh migran di 116 negara pada tahun 2012 sekitar Rp100 triliun, terdiri atas Rp67 triliun yang dikirimkan melalui perbankan atau lembaga keuangan non-bank dan selebihnya yang dibawa langsung. Jumlah itu 10% dari nilai APBN, menempati posisi kedua setelah pendapatan dari sektor migas. Angka tersebut memang fantastis.

Tapi di Victoria Park, kita akan tahu bahwa para pekerja migran tak bisa dieja hanya dengan angka. Seperti yang telah disinggung di atas bahwa begitu banyak atau bombardir berita media massa tentang nasib mengenaskan para pekerja migran yang seakan terus berulang. Hal itu membuat penulis menengok kembali naskah awal yang pernah cukup lama dia diamkan, kemudian dia bertekad dan berjanji untuk menyelesaikannya.

Semata-mata untuk mengabarkan kepada publik bahwa kita tak perlu mengulang kesalahan yang sama jika kita tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sehingga, keprihatinan sebagai warga negara Indonesia ini tidak terjadi: “Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain.”

Judul : Tentang Sedih di VICTORIA PARK
ISBN : 978-602-8394-33-8
Penulis : Fransisca Ria Susanti
Editor : Mathori A Elwa
Penerbit : Nuansa Cendekia
Cetakan : Mei 2013
Tebal : 228 halaman
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi : 14,5 x 21 cm
Kategori : Sosial

Suro Prapanca
Dimuat juga di INILAHKORAN, Minggu 23 Juni 2013

Minggu, 23 Juni 2013

Resensi Buku - HADIAH DARI SANG GURU

Lakukan dan Kerjakan, Allah yang Menyempurnakan 

Langkah boleh salah, tapi niat tidak boleh salah. Allah akan menunjukkan jalan buat kita,” demikian nasihat guru sang penulis, yang tak lain adalah Ustaz Yusuf Mansur, yang senantiasa memberi motivasi untuk tidak takut memulai berbuat kebaikan. “Lakukanlah dan kerjakan. Allah akan menyempurnakannya!” Ikhtiar penulis menyusun buku ini tak lepas dari kesyukuran atas “Hadiah dari Sang Guru”. Hadiah bukan dalam arti materi, tapi amanah, kepercayaan, ilmu, dan pengetahuan yang diturunkan oleh sang guru.

Karena itu, buku ini diberi judul Hadiah dari Sang Guru. Ukurannya praktis (tidak besar) dan nyaman dibaca pula (di mana saja). Buku ini adalah buku kedua karya Tarmizi Ashidiq yang bertutur dari kisah-kisah ringan dan apa adanya. Sebagai Direktur Eksekutif Yayasan Daarul Qur’an, Tarmizi adalah mesin yang membuat Program Pembibitan Penghafal Al-Qur’an (PPPA) Daarul Qur’an melesat amat cepat. Kemudian menebar gerakan Rumah Tahfidz yang kini jadi gerakan penghafal Alquran terluas di Indonesia. Tiga tahun terakhir, budaya menghafal Alquran tak lagi jadi hal aneh di Indonesia. Bahkan, jutaan orang tua telah mendorong dan memilihkan jalan hidup putra-putrinya sebagai penghafal Alquran.

Isi buku ini memang cerita ringan-ringan saja, tapi jangan dulu sepelekan urusan yang ringan-ringan. Karena, seperti yang dikisahkan dalam berbagai kitab hadis, gara-gara urusan yang sepele Allah memberi ganjaran pada orang yang melakukannya dengan surga. Seperti, sebuah hadis yang mengisahkan seorang pelacur yang diberi ganjaran surga karena telah menimba air dengan sepatunya untuk memberi minum seekor anjing yang kehausan di padang pasir.

Begitu juga sebaliknya, kita juga tidak boleh menyepelekan soal-soal yang ringan. Karena, “Dosa Besar,” kata Sayyidina Ali ra, “adalah dosa kecil yang disepelekan.” Seperti, kisah perempuan masuk neraka lantaran mengurung seekor kucing hingga mati kelaparan atau bagaimana orang masuk neraka gara-gara membunuh lalat atas nama selain Allah.

Hikmah dari kisah-kisah ringan yang disajikan Tarmizi dalam buku ini tidak lain adalah kedahsyatan sedekah. Baik kisah yang dialaminya sendiri, keluarganya, sahabatnya, maupun orang lain. Bahkan, royalti buku ini pun sepenuhnya disedekahkan sang penulis untuk mendukung Program Dakwah Pedalaman Nusantara, sebagaimana yang pernah disarankan kepadanya untuk mengikuti jejak sang guru.

Banyak sudah buku inspiratif yang sebagian kisahnya realita dibumbui cerita agak dramatis. Namun jika pembaca terinspirasi setelah membaca buku ini, tak lain karena penulis bertutur apa adanya. Jadi, ayo mulailah berbuat sedekah (kebaikan) sekarang juga. “Lakukanlah dan kerjakan. Hakulyakin Allah akan menyempurnakannya!”

Judul : HADIAH DARI SANG GURU: Mengeja Hikmah dari Berkah Hidup Bersama Guru
ISBN : 978-979-055-386-6
Penulis : Tarmizi Ashidiq
Editor : Rina Rianasari
Penerbit : Syaamil Book
Cetakan : Januari 2013
Tebal : 140 halaman
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi : 15 x 15 cm
Kategori : Hikmah/Inspiratif

Bandung, 14 Juni 2013
Suro Prapanca
Dimuat juga pada harian INILAHKORAN, Minggu 16 Juni 2013

Resensi Buku - NALAR AYAT-AYAT SEMESTA

Ayat-Ayat Semesta Menjadi Kebangkitan Sains Islam 

Bila mendengar kata ‘sains’ dan ‘agama’ (dalam hal ini Islam), mungkin sampai sekarang banyak orang yang menggambarkan betapa serunya sejarah hubungan di antara keduanya. Dalam catatan sejarah, perjumpaan agama dengan sains tidak hanya berupa pertentangan belaka, tetapi juga banyak cerita bagaimana orang berusaha mencari hubungan antara keduanya. Yaitu hubungan pada posisi, sains tidak mengarahkan agama pada jalan yang dikehendakinya dan agama juga tidak memaksakan sains untuk tunduk pada kehendaknya.

Di sini, dalam buku Nalar Ayat-Ayat Semesta terlebih dahulu sang penulis menguraikan tentang tiga pola interaksi antara sains dan Islam, yaitu Islamisasi Sains, Saintifikasi Islam, dan Sains Islam: pengertian, perbedaan, dan persamaannya. Menurut penulis, Islamisasi Sains telah banyak dilakukan, baik oleh perorangan maupun lembaga. Seperti yang dilakukan Fakultas Sains dan Teknologi semua Universitas Islam Negeri (UIN) di seluruh Indonesia, mereka melakukan upaya Islamisasi Sains dalam mengintegrasi sains dan Islam.


Bagaimana dengan Sains Islam? Sejauh ini wacana yang mendominasi Sains Islam berada di ranah ilmu sosial, seperti ekonomi, psikologi, maupun politik. Di sinilah, Agus Purwanto, sang penulis Nalar Ayat-Ayat Semesta, memberikan argumentasi bahwa Sains Islam juga berlaku bagi ilmu alam. Dia menyampaikan secara mendetail dalam buku yang kedua ini (buku pertamanya berjudul: Ayat-Ayat Semesta, Mei 2008) khususnya dengan mempertimbangkan 800 ayat dalam Al-Quran yang secara deskriptif menerangkan tentang fenomena alam atau disebut dengan ayat-ayat kauniyah.

Dalam Al-Quran, jumlah ayat-ayat kauniyah sangatlah banyak, tetapi sering kali terabaikan dari perhatian umat Muslim. Padahal ayat-ayat kauniyah itu perlu, untuk menggugah kesadaran mengenai pentingnya penguasaan ilmu dan teknologi bagi kesejahteraan manusia di muka bumi, selain untuk merenungkan penciptaan Tuhan.

Melanjutkan buku pertamanya itulah, sang penulis –yang juga seorang doktor fisika teoretis dan pengkaji serius Al-Quran— mengajak umat Muslim untuk senantiasa merenungkan ayat-ayat kauniyah yang terdapat di dalam Al-Quran demi tumbuhnya kecintaan pada sains sekaligus pada bahasa Arab dan Al-Quran, serta sebaliknya cinta pada Al-Quran sekaligus sains.

Pada akhirnya, ajakan sang penulis yang dituangkan dalam buku ini menjadi harapan besar. Harapan untuk membangun Sains Islam, karena umat Islam telah sekian lama mengabaikan dan tidak mempunyai tradisi mengembangkan ilmu alam atau membangun sains secara umum, tidak hanya wacana Sains Islam di ranah ilmu sosial.

Nalar Ayat-Ayat Semesta (AAS), penyebutan ini diharapkan memberi efek psikologis bahwa Al-Quran merupakan basis epistemologi dalam konstruksi Sains Islam. Dalam artian, wahyu menjadi bagian dari dasar-dasar pengetahuan, baik yang berhubungan dengan hakikat hidup (ontologi) maupun kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia (aksiologi). Jadi, Al-Quran tidak lagi dipahami sekadar katalog atau daftar fasilitas hidup setelah mati maupun setelah Hari Kebangkitan di Padang Mahsyar, melainkan dipahami secara lebih lengkap dan terpadu. Semoga!

Judul : NALAR AYAT-AYAT SEMESTA
Menjadikan Al-Quran sebagai Basis Konstruksi Ilmu Pengetahuan
ISBN : 978-979-433-730-1
Karya : Agus Purwanto, D.Sc.
Diterbitkan : Penerbit Mizan, PT Mizan Pustaka
Cetakan I : Agustus 2012
Tebal : 480 halaman
Jenis Cover : Hard Cover
Dimensi : 19 x 24,5 cm
Kategori : Al-Quran/Sains

Bandung, 7 Juni 2013
Suro Prapanca
Dimuat juga pada harian INILAHKORAN, Minggu 9 Juni 2013