Sabtu, 08 Agustus 2015

Resensi Buku: Pelangi Kerlap-kerlip

Judul Resensi Buku:
Pelangi yang Mempertahankan Warna-warni

(Resensi Buku: Pelangi Kerlap-kerlip) -- “PELANGI Kerlap-kerlip” adalah novel perdana karya Dewi Pelangi, seorang ibu pendidik yang sehari-hari disibukkan dengan kewajibannya mengajar, juga tetap memperhatikan dan mengurus sendiri dua putri buah hatinya, Ratu Audi dan Putri Mawadah.

Sebelumnya, penulis lebih banyak menghasilkan buku-buku dan naskah-naskah karya orang lain untuk disunting/diedit. Sejak lulus dari Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Jurusan Editing/Penyuntingan, putri kelahiran Bogor ini langsung mengamalkan ilmu yang didapatnya di bangku kuliah kemudian diaplikasikan di dunia kerja. Dengan bekerja di dunia media massa dan di beberapa penerbit di Bandung maupun Bogor. Bagi pembaca yang ingin ikut merasakan adukan perasaan yang diilhami dari kisah nyata ini baca dulu blog Best-seller Books ini baru miliki bukunya.

Diilhami dari kisah nyata, “Pelangi Kerlap-kerlip” berkisah tentang sang tokoh, Pelangi Mumtazah, yang berusaha bersahabat dengan persoalan hidup, menyikapi realita, dibalut kuatnya rasa cinta, dan ujian serta pembuktian kuatnya cinta yang dimiliki tidak boleh mengalahkan cinta dan mendambanya kepada Rasulullah (keimanan).

Novel yang diterbitkan oleh Penerbit Zora Book, Yogyakarta, dengan ketebalan 318 halaman ini berkisah tentang sosok Pelangi Mumtazah yang menemukan cintanya pada Kak Acheng. Sayang, dua insan yang sebetulnya bisa saling mengisi dan saling melengkapi dengan dilandasi cinta kasih, harus bertemu tembok keimanan yang mereka pegang teguh dengan kuat. Dua insan yang teguh memegang keyakinan agama dan berasal dari keluarga yang keduanya sama-sama taat Bergama, keduanya berbeda agama.

Namun, berdasarkan keyakinannya bahwa cintanya kepada Rasulullah lebih besar dibanding cintanya kepada sesama manusia, Pelangi mantap memilih meninggalkannya dan menerima pinangan Ismail, yang tak lain adalah teman semasa sekolah di Sekolah Menengah Pertama. Cinta memang perlu diperjuangkan, sangat mudah diucapkan. Rumah tangganya dengan Ismail menguji kecintaannya untuk memilik pasangan hidup dengan orang yang seiman. Tapi, ombak dan badai cobaan mahligai rumah tangganya sungguh menghebat!

Batin Pelangi, terus tertekan dan menggumpalkan tanda tanya besar. Mengapa jalan yang ditempuhnya untuk lebih memilih pasangan hidup yang seiman tapi penderitaan dan cobaan terus menerjang? Harapannya, menemukan sosok imam dalam rumah tangga, seperti halnya rumah tangga Rasulullah yang sakinah mawadah warahmah, tidak dia temukan dengan suaminya yang seiman, Ismail?

Meski ini adalah novel perdana sang penulis, namun sebuah gambaran kehidupan dan penokohannya sangat alami dan realistis, serta alur cerita yang sarat emosi. Anda, pembaca, seperti diajak merenungi perjalanan hidup masing-masing, yang kita alami. Membuka mata hati pembaca untuk bersahabat dengan persoalan hidup, menyikapi realita dengan mampu menimbang antara kesalahan dan kebenaran.

Barangkali, novel ini bisa menjadi cermin perjuangan perempuan, bagaimana mempertahankan cinta, menjaga keluarga, dan menggenggam keimanannya. Sangat memovitasi para perempuan untuk bangkit dari ketakutan dan keterpurukan. Bagaimana mengubah takdir dengan doa dan ikhtiar. Optimistis melangkah dengan berprasangka baik pada Allah. (Baca pula novel-novel lainnya yang diresensi oleh Suro Prapanca di blog ini)

Selanjutnya bagaimana bisa rumah tangganya bersama Ismail hancur berantakan? Apakah Pelangi menemukan sosok yang mengajaknya menggenggam cinta hakiki berhiaskan iman dan takwa? Simak saja kisah Pelangi Mumtazah dalam “Pelangi Kerlap-kerlip” ini! Selamat membaca resensi buku ini. Kemudian setelah membaca novelnya langsung, semoga novel ini bisa menuntun pembaca untuk bisa menyikapi realita dan mampu menimbang antara kesalahan dan kebenaran.

Judul : Pelangi Kerlap-kerlip
ISBN : 978-602-71777-4-1
Penulis : Dewi Pelangi
Penerbit : Zora Book, Glosaria Media Group
Cetakan : 2015
Halaman : 318 halaman
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi : 14 x 21 cm
Kategori : Novel

Resensi Buku: Mulailah Berbisnis Sebelum Usia 25 Tahun

Judul Resensi Buku:
Mulailah dan Berhentilah Bicara! 

(Resensi Buku: 
Mulailah Berbisnis Sebelum Usia 25 Tahun) -- SATU Lagi di bulan Juli 2015 ini, sang penulis produktif, Budi Safa’at menuangkan idenya dengan menulis buku motivasi “Mulailah Berbisnis Sebelum Usia 25 Tahun” yang mengajak para insan muda untuk tidak ragu menjemput kesuksesan mereka melalui bisnis. Mulailah dan Berhentilah Bicara!

Penulis yang sehari-harinya sebagai pegiat media di harian umum yang terbit seantero Jawa Barat, seolah menjadikan buku motivasi bisnis yang baru terbit ini untuk melengkapi karya-karyanya yang telah diterbitkan sebelumnya. Seperti, “50 Ritual Pagi Miliarder Dunia”, “11 Wags Paling Hot Abad Ini”, “11 Wags Paling Kontroversial Abad Ini”, “Marc Marquez Si Semut Mirah Pemecah Rekor”, dan “Ide Bisnis Anda Memang Brilian”. Dan resensi buku-buku tersebut dimuat di blog ini Best-seller Books.

Apakah usia kamu masih belum mencapai 25 tahun, tapi sudah berpikir untuk memiliki usaha sendiri? Jika iya, kamu pastinya tidak sendirian. Para miliarder yang ada dalam buku setebal 286 halaman ini pernah berada dalam posisi seperti kamu. (Simak juga buku-buku karya Budi Safa'at yang diresensi oleh Suro Prapanca di blog ini).

Buku terbitan Grasindo, PT Widiasarana Indonesia ini, berisi 50 miliarder sukses dari berbagai belahan dunia. Mereka berbagi kisah bagaimana sudah merintis bisnisnya sejak usia mereka belum mencapai seperempat abad. Kebanyakan di antara mereka, bahkan memulainya pada saat masih bersekolah menengah. Tak sedikit dari para miliarder itu memulai sesuatunya dengan hal sangat sederhana, hobi, bahkan sesuatu yang bisa dibilang tak terpikirkan oleh kebanyakan orang di sekitarnya.

Di antara mereka ada Aiko Morita, pendiri Sony. Calvin Richard Klein, pendiri Carlvin Klein. Dustin Moskovic, pendiri Facebook dan Asana.Com. Matt Mullenweg, pendiri Wordpress. Do Won Chang, pendiri Forever 21. Jacob Arabo, pendiri Jacob & Co. Dan, masih banyak lagi para milarder yang telah memutuskan dan melakukan bisnisnya yang dimulai dari usia muda.

Mudanya usia ternyata tidak menghalangi mereka untuk merangkak ke gerbang kesuksesan. Dan sekarang ini di usia yang sebagian besar belum mencapai 50 tahun, mereka sudah merasakan arti kesuksesan itu sendiri. Bagaimana mereka merintis usaha mereka dan bergulat dengan pilihan mereka di usia yang masih belia pasti akan membuat kamu terbengong-bengong. Beberapa kisah, bahkan akan sangat mungkin membuat kamu tiba-tiba merasakah semangat yang luar biasa untuk mengejar passion kamu.

Di samping itu, Anda juga akan mendapatkan tips sukses dari Warren Buffet. Siapa dia, Warren Buffet? Orang yang dianggap ‘dewa’ di dunia bisnis ataupun investasi. Bagaimana tidak, kekayaannya saja mencapai angka 71,5 miliar dolar AS. Pria 78 itu adalah guru sekaligus inspirasi bagi orang-orang yang punya ketertarikan besar di bidang bisnis. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari perjalanan hidupnya.

Simak saja kisah mereka dan temukan semangat di dalamnya! Selamat membaca resensi buku ini jangan lupa teruskan juga dengan membaca bukunya langsung. Semoga buku ini bisa jadi awal dari jawaban atas segala pertanyaan yang kini masih hinggap di benak Anda.

Judul : Mulailah Berbisnis Sebelum Usia 25 Tahun
ISBN : 978-602-3750-41-2
Penulis : Budi Safa’at
Penerbit : Grasindo, PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Cetakan : 2015
Halaman : 286 halaman
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi : 13,5 x 20 cm
Kategori : Motivasi

Minggu, 28 Juni 2015

Resensi Buku: Perempuan Bernama Arjuna 3

Berjumpa Peradaban Jawa Silam

(Resensi Buku: Perempuan Bernama Arjuna 3) -- SETELAH “Perempuan Bernama Arjuna” karya fiksi bermutu yang bertema “Filsafat dalam Fiksi” beredar akhir tahun 2013, Remy Sylado melanjutkan kisahnya dalam buku “Perempuan Bernama Arjuna 2”. Kemudian April 2015, terbitlah sekuel yang ketiga “Perempuan Bernama Arjuna 3”. Sang penulis, Remy Sylado, yang nama-nama bekennya lebih dikenal (seperti Yapi Tambayong, Alif Danya Munsyi, Juliana C Panda, Dova Zila, dan Jubal Anak Perang Imanuel) dibanding nama aslinya, menulis lanjutan novel fiksi kedua ini dengan tema “Javanologi dalam Fiksi”.

Novel setebal 308 halaman (hampir sama tebal dengan sekuel sebelum-sebelumnya) yang diterbitkan oleh Penerbit Nuansa Cendekia ini melanjutkan kisah Arjuna, perempuan muda, bersama suaminya, Jean-Claudie van Damme, Pastor Jesuit yang “insyaf” itu, yang melanjutkan perjalanan ke tanah leluhur Ibunya yang berasal dari Semarang, Jawa Tengah, dan tanah leluhur Bapaknya yang Cina di Solo, Jawa Tengah. Dalam perjalanan inilah, kedua pasangan yang perbedaan umur sangat jauh ini, seolah membawa pembaca mengulas pemikiran, sejarah, dan tamadun bangsa Jawa. Sepertinya akan menjadi best-seller books, bacaan yang bergizi dan bermutu untuk tahu hal-ihwal peradaban Jawa silam.

Berdua mereka menelusuri keragaman masa kini, mengaca pada masa silam, kemudian mengangkut sejumlah pelajaran kehidupan meliputi falsafah, mitologi, ramalan, seni-budaya, budi-pekerti, ke-Hindhua-an, ke-Buddha-an, ke-Kristen-an, ke-Islam-an, nyanyian, kesusastraan, kuliner, traveling, Kamasutra Hindhu. Ingat ya, karena wacana seksualitas cukup mendominasi, maka memang buku ini hanya layak dibaca untuk kalangan dewasa.

Terdapat banyak pengetahuan dan budaya Jawa yang tersebar di setiap halaman novel ini. Tapi jangan berkerut kening dulu, karena ulasannya akan segera Anda temui di catatan-catatan kaki di lembar demi lembar karya fiksi ini yang akan menuntun pemahaman Anda, sang pembaca.

Melalui resensi yang ditulis Suro Prapanca ini, diketahui novel ini sangat baik untuk menambah vitamin pemikiran sejarah dan merangsang gairah pengetahuan budaya nasional. Isinya seputar potret kehidupan sisi historis peradaban Mataram di era Sultan Agung. Ulasan Jawa di masa silam yang pernah mengalami era keemasan dengan prestasi gemilang mewujudkan peradaban Islam—sebuah prestasi yang patut diketahui generasi masa kini.

Lalu, bagaimana cerita perjalanan pengantin baru ini ke pusat peradaban Jawa? Bagaimana keharmonisan rumah tangga setelah sekian lama, pasangan Arjuna (keturunan Jawa-Cina) dan Jean-Claudie van Damme (Barat tulen)? Anda akan mendapatkan rekam jejak pemikiran, sejarah, dan tamadun bangsa Jawa melalui novel yang terasa renyah saat mengunyah pengetahuan yang penuh ilmiah ini. Selamat membaca! Resensi buku ini juga dimuat di harian Inilah Koran.

Judul: Perempuan Bernama Arjuna 3
ISBN: 978-602-350-006-2
Penulis: Remy Sylado
Penerbit: Nuansa Cendekia
Cetakan: April 2015
Tebal: 308 halaman
Jenis Cover: Soft Cover
Dimensi: 14 x 20 cm
Harga: Rp75.000,00

Resensi Buku: Kamus Hubungan Internasional

Judul Resensi Buku:
Memahami Interaksi Lintas Negara dengan KHI

(Resensi Buku: Kamus Hubungan Internasional) -- HUBUNGAN Internasional di era global sekarang ini menjadi relasi tak terbantahkan dalam hidup berbangsa dan bernegara di tengah-tengah pergaulan jagat raya ini. Tiap-tiap negara diwakili oleh individu maupun oleh diplomat yang memang diutus negara untuk menyambung persahabatan maupun pergaulan dengan negara tetangga, regional maupun internasional.

Untuk mengetahui lebih atau ingin lebih tahu hal ihwal hubungan internasional, Khasan Ashari --yang telah bergabung dengan Kementerian Luar Negeri RI dari tahun 2000 dan dalam penugasannya pernah menangani isu-isu bilateral maupun multilateral—kali ini menghadirkan kepada pembaca salah satu upaya untuk lebih mengetahui dunia diplomasi ini dengan menghadirkan buku “Kamus Hubungan Internasional” atau KHI. Akan menjadi best-seller books untuk mengenal lebih hal-ihwal diplomasi dengan masyarakat dunia.

Baik sebagai disiplin ilmu maupun dalam konteks kehidupan sehari-hari, hubungan internasional bersifat kompleks dan dinamis. Kompleks karena melibatkan banyak aktor dengan beragam kepentingan, dinamis karena yang menjadi pokok bahasan terus berkembang. Sifat hubungan internasional yang kompleks ini melahirkan beragam konsep dan terminologi yang sebagian hanya digunakan dalam diskusi kelas, dan sebagian besar justru muncul di pemberitaan media dan perbincangan sehari-hari.

Melalui buku KHI yang diterbitkan oleh Penerbit Nuansa ini, akan menambah pemahaman pembaca mengenai konsep dan terminologi tersebut. Tentu saja, hal itu akan berperan penting dalam membantu Anda memahami fenomena hubungan internasional. Oleh karena itu, Kamus Hubungan Internasional ini disusun berdasarkan pemikiran tersebut dan keprihatinan akan masih sedikitnya buku penunjang studi hubungan internasional.

Proses penyusunan buku ini juga istimewa karena diselesaikan oleh penulis saat sedang bertugas di Wina, Austria. Kota yang memiliki sejarah panjang sebagai tempat berkembangnya praktik diplomasi modern. Wina juga memiliki peran penting dalam hubungan internasional sebagai salah satu lokasi kantor organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Diketahui dari resensi yang ditulis Suro Prapanca ini bahwa KHI ini memuat lebih dari 1.350 konsep dan terminologi di bidan hubungan internasional, diplomasi, dan politik luar negeri. Penulis menjadikan literatur hubungan internasional sebagai rujukan dipadukan dengan pengalaman dalam dunia diplomasi selama kurang lebih sepuluh tahun. Penjelasan setiap entri disusun dengan bahasa yang mudah dipahami.

Harapannya, KHI ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dalam memahami fenomena hubungan internasional yang pada satu sisi semakin sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, namun pada sisi lain juga memiliki karakteristik yang semakin kompleks. Selamat membaca. Resensi buku ini juga dimuat di harian Inilah Koran.

Judul : Kamus Hubungan Internasional
ISBN : 978-602-3500-00-0
Karya : Khasan Ashari
Diterbitkan : Penerbit Nuansa Cendekia
Cetakan I : Februari 2015
Tebal : 488 halaman
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi : 17,5 x 25 cm
Kategori : Kamus

Kamis, 25 Juni 2015

Resensi Buku: Hukum Langit

Judul Resensi Buku:
Usahawan Berdasar Hukum Tuhan

(Resensi Buku: Hukum Langit) -- ANDA Mengenal Abu Marlo? Coba deh tanya Mbah Google! Betul, usahawan muda asal Bandung ini dikenal sebagai “profesional magician”. Ternyata di samping sebagai tukang sulap, bahasa kerennya magician, dia juga menuliskan perjalanan kariernya sebagai usahawan (pengusaha) serta keberhasilannya menempuh pendidikan formal dan nonformal ke dalam buku berjudul “Hukum Langit”. Inilah tayangan di Best-seller Books setelah wawancara khusus dengan Abu Marlo di salah satu kafenya di Jalan Lengkong Bandung pada Maret 2015.

Luar biasa! Abu Marlo menulis buku ini hanya dalam 7 hari, berisi argumen-argumen meyakinkan, penjelasan simpel dan menghangatkan hati, ditambah fakta-fakta menyentak. Abu Marlo menawarkan Hukum Langit, yaitu entrepreneurship berdasarkan hukum Tuhan, sekaligus menyibak rahasia sedekah, rasa syukur, etos kerja, dan perilaku kita di hadapan Tuhan dan orangtua untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini.

Buku dengan tebal 252 halaman yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama ini bukan hanya buku motivasi untuk sukses secara instan karena buku ini akan menyentak kita dengan paradigma segar tentang bagaimana seharusnya bekerja keras serta mendapatkan kepuasan dan kebahagiaan. Jadi, setelah baca resensi karya Suro Prapanca ini, Anda gak penasaran ingin baca bukunya langsung.

Membaca buku ini, berarti Anda juga akan menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan yang barangkali juga sering Anda tanyakan, seperti halnya berikut ini.
- Apa boleh kita bersedekah dengan tujuan agar bisnis kita semakin besar dan berkembang?
- Patutkah kita memberi pengemis atau menyantuni anak yatim dengan harapan mendapatkan balasan dan meminta mereka mendoakan usaha dan diri kita?
- Pernahkah Anda bersungguh-sungguh melayani klien, tapi ia malah kabur dan tidak membayar honor Anda?
- Apakah Anda merasa berprestasi, tapi malah orang lain yang mendapatkan kredit dan pujian?
- Apakah Anda ingin punya bisnis sendiri, tapi tak tahu bisnis apa dan bagaimana cara memulainya?
- Apakah Anda sudah menempuh berbagai jalan untuk memajukan bisnis, tapi malah berakhir dengan rasa putus asa dan menyisakan masalah?

Sebagai penutup, mengutip pendapat Wimar Witoelar, “... Hukum Langit menjadi bacaan yang menarik. Ia merupakan upaya penulis untuk menerapkan agama dan filosofi dalam menyambut motif keuntungan materi. Pembaca bisa dilibatkan untuk mengikuti tarikan pikiran penulis, bisa juga dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan penulis di setiap halaman. Apa pun manfaat buku ini, penulis akan mengajak pembaca berpikir dan mengasah daya kritis masing-masing. Memilih antara menjadi bersemangat dan menjadi skeptis. Karena itu, Hukum Langit adalah buku yang berguna sebab memancing reaksi.” Selamat membaca! Resensi buku ini juga dimuat di harian Inilah Koran.

Judul: Hukum Langit
ISBN: 978-979-22-9278-7
Penulis: Abu Marlo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Maret 2013
Tebal: 252 halaman
Jenis Cover: Soft cover
Dimensi: 15 x 21 cm
Harga: Rp58.000,00

Resensi Buku: Ayat-ayat Semesta

Sisi-sisi Al-Quran yang Terlupakan

(Resensi Buku: Ayat-ayat Semesta) -- JIKA Einstein yang meyakini unifikasi empat gaya di alam (gravitasi, nuklir lemah, nuklir kuat, elektromagnetik) berdasarkan fakta empiris, Abdul Salam, ilmuwan Muslim pemenang nobel fisika, meyakininya berdasarkan prinsip tauhid, yakni bahwa segala sesuatu adalah manifestasi dari Al-Ahad (Yang Satu). Jadi, dibalik teori fisika yang sama, terdapat perbedaan keyakinan: empiris berhadapan dengan tauhid. Di blog Best-seller Books ini juga Anda bisa baca resensi buku karya Agus Purwanto sebelumnya yang masih berkaitan.

Al-Quran memerintah manusia untuk merenungi kejadian-kejadian di alam semesta. Perenungan itu di satu sisi akan mengantarkannya pada pengenalan yang semakin baik akan keagungan Sang Pencipta dan di sisi lain, pada penguasaan ilmu dan teknologi bagi kesejahteraan dan kelestarian manusia di bumi.

Di sinilah (buku yang diresensi oleh Suro Prapanca), Agus Purwanto, penulis buku ini—seorang doktor fisika teoretis dan pengkaji-serius Al-Quran—mengajak kaum Muslim untuk merenungkan kembali ayat-ayat kauniyah yang terdapat di dalam Al-Quran. Ajakan ini lahir dari keprihatinan sang penulis betapa sebagian (besar) kaum Muslim dewasa ini melupakan ayat-ayat kauniyah dalam Al-Quran yang melukiskan fenomena-fenomena ala mini, dan sebaliknya, lebih berfokus pada ayat-ayat seputar keyakinan dan praktik ritual keagamaan (akidah dan fiqih).

Dengan mengumpulkan dan mengklasifikasikan 800 ayat Al-Quran serta menjadikannya sebagai inspirasi bagi pembentukan dan pengembangan ilmu pengetahuan, sang penulis dalam dalam buku Ayat-Ayat Semesta cetakan kedua (cetakan pertama, Mei 2008) ini ingin sekali memberikan kontribusi bagi upaya konstruksi sains yang bersemangat Qurani. Sebuah buku yang wajib dibaca bagi para pengkaji dan pencinta Al-Quran dan ilmu pengetahuan.

Dr. Freddy Permana Zen, Fisikawan ITB; penerima Habibie Award untuk Ilmu Dasar pada 2006, memberikan komentar, “Penulis buku ini berimajinasi akan adanya sains matematika, astronomi, fisika, kimia, dan biologi yang sejak awal dibangun dari Kitab Suci Al-Quran Al-Karim. Karena itu, buku ini wajib dibaca oleh mereka yang memimpikan bangkitnya kembali peradaban Islam. Peradaban masa depan bertumpu pada sains; tanpa sains, tidak ada masa depan.”

Kemudian Dr. Terry Mart, Fisikawan UI; penerima Habibie Award untuk Ilmu Dasar pada 2006, menambahkan, “Sebuah buku yang unik dan menarik yang pertama kali ditulis fisikawan partikel teori Indonesia. Buku ini patut dibaca oleh siapa saja yang dingin mengetahui pertemuan antara alam logika bebas dan alam wahyu ilahiah, dilihat dari sisi fisika.”

Selamat membaca! Resensi buku ini juga dimuat di harian Inilah Koran.

Judul : Ayat-ayat Semesta
ISBN : 978-979-433-871-1
Karya : Agus Purwanto, D.Sc.
Diterbitkan : Penerbit Mizan, PT Mizan Pustaka
Cetakan II : Februari 2015
Tebal : 452 halaman
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi : 15,5 x 23,5 cm

Resensi Buku: Perempuan Bernama Arjuna 2

Potret Pembauran Arjuna-Van Damme

(Resensi Buku: Perempuan Bernama Arjuna 2) -- SETELAH “Perempuan Bernama Arjuna” karya fiksi bermutu yang bertema “Filsafat dalam Fiksi” beredar akhir tahun 2013, Remy Sylado melanjutkan kisahnya dalam buku “Perempuan Bernama Arjuna 2”. Sang penulis, Remy Sylado, yang nama-nama bekennya lebih dikenal (seperti Yapi Tambayong, Alif Danya Munsyi, Juliana C Panda, Dova Zila, dan Jubal Anak Perang Imanuel) dibanding nama aslinya, menulis lanjutan novel fiksi kedua ini dengan tema “Sinologi dalam Fiksi”. Di blog Best-seller Books ini Anda juga bisa baca resensi trilogi novel karya termutakhir Remy Sylado.

Novel setebal 312 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit Nuansa Cendekia ini melanjutkan kisah Arjuna, perempuan muda, bersama suaminya, Jean-Claudie van Damme, Pastor Jesuit yang “insyaf” itu, akhirnya berbulan madu di Bandung, kota yang sejak zaman Belanda punya istilah “Bandoeng is goed voor pas getrowde paar” (Bandung cocok untuk pengantin baru).


Berdua mereka menelusuri keragaman masa kini, mengaca pada masa silam, kemudian mengangkut sejumlah pelajaran kehidupan Sunda, Cina, Belanda, Jawa, Manado, Batak, dan etnik-etnik lain. Dan sinologi (pengetahuan bahasa dan budaya Cina), dalam novel ini mendapatkan porsi dominan karena ilmu-ilmu Cina memang sudah lama masuk ke bumi Nusantara. Di Jawa Barat, pemakaian istilah Ci, seperti Cicadas, Ciroyom, Cimahi, Cilaki, Cihampelas, menjadi petunjuk sejarah yang jelas.

Terdapat banyak pengetahuan dan budaya Cina yang tersebar di setiap halaman novel ini. Tapi jangan berkerut kening dulu, karena ulasannya akan segera Anda temui di catatan-catatan kaki di lembar demi lembar karya fiksi ini yang akan menuntun pemahaman Anda, sang pembaca. So, setelah membaca resensi yang ditulis oleh Suro Prapanca ini, jangan berkerut kening lagi saat membaca bukunya .... :)

Novel ini sangat baik untuk menambah vitamin pemikiran sejarah dan merangsang gairah pengetahuan budaya nasional. Isinya seputar potret kehidupan “Parijs van Java”, yang menukik pada masalah “prasangka rasial”, “pri-nonpri”, “engkoh-encik”, “pembauran”, “masakan Cina”, “Muslim Cina”, “musik Cina”, “obat Cina”, hingga seputar “nyetun”, “purenva di Saritem,” yang pokoknya terasa “edun suradun”,….

Lalu, bagaimana cerita perjalanan pengantin baru ini ke “Bandoeng is goed voor pas getrowde paar”? Bagaimana pembauran Arjuna (keturunan Jawa-Cina) dan Jean-Claudie van Damme (Barat tulen)? Sayang, Anda tak akan mendapatkan porsi sinologi, apabila tak membaca novelnya. Selamat membaca! Resensi buku ini juga dimuat di harian Inilah Koran.

Judul: Perempuan Bernama Arjuna 2
ISBN: 978-602-7768-61-1
Penulis: Remy Sylado
Penerbit: Nuansa Cendekia
Cetakan: II, Oktober 2014
Tebal: 312 halaman
Jenis Cover: Soft Cover
Dimensi: 14 x 20 cm
Harga: Rp75.000,00